Modal Asing masih Selektif Masuk ke Pasar RI
📅 Kamis, 18 Jun 2026, 00:43 WIB | Oleh: Tim RedaksiPasar Keuangan
JAKARTA - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah merupakan salah satu faktor penentu tren penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset), Rully Arya Wisnubroto mengatakan keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan sejumlah indikator makro yang menjadi perhatian investor, terutama pergerakan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah.
“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN (Surat Berharga Negara) tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3 persen menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (16/6).
Kondisi tersebut jelasnya akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut data yang dihimpun Antara, IHSG pada pembukaan perdagangan selama seminggu terakhir tercatat berada di posisi 5.344,69 pada Selasa (9/6), lalu menjadi 5.744,06 pada Rabu (10/6), 5.899,27 pada Kamis (11/6), 5.960,27 pada Jumat (12/6), dan kemudian 6.118,73 pada Senin (15/6).
Rully menyatakan, penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh faktor technical rebound berkat dukungan implementasi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang lebih tegas menaikkan suku bunga serta deeskalasi ketegangan geopolitik.
BI menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen per 9 Juni lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan damai dan akan menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pada 19 Juni mendatang.
Hal tersebut turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah, sehingga kondisi fundamental perekonomian Indonesia berkembang menjadi lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Kendati demikian, Rully memperkirakan pasar masih akan mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan moneter, serta stabilitas pasar keuangan domestik.
Walaupun tanda-tanda perbaikan mulai terlihat, investor masih menunggu konfirmasi yang lebih kuat bahwa penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah dapat berlanjut secara berkelanjutan sebelum optimisme terhadap pasar kembali menguat.
“Arus modal asing masih cenderung selektif,” ujar Rully.
Persepsi Risiko
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!