Biologi Sintetis Buka Jalan “De-Ekstensi” Mammoth Berbulu
📅 Kamis, 30 Jul 2026, 07:37 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: TIMOTHY A. CLARY / AFP
UPAYA menghidupkan kembali karakteristik hewan yang telah punah memasuki babak baru seiring berkembangnya teknologi biologi sintetis dan penyuntingan gen. Salah satu proyek paling ambisius adalah upaya menghadirkan kembali woolly mammoth atau mammoth berbulu, hewan besar yang pernah mendominasi wilayah Arktik sebelum akhirnya punah ribuan tahun lalu.
Namun, para ilmuwan tidak benar-benar berupaya menghidupkan kembali mammoth dengan menyalin seluruh genom hewan yang telah punah tersebut. Strategi yang dikembangkan lebih menyerupai rekayasa biologis: menggunakan gajah Asia sebagai kerabat hidup terdekat, kemudian mempelajari dan merekayasa sejumlah karakteristik genetik mammoth yang berkaitan dengan kemampuan bertahan di lingkungan dingin.
Upaya tersebut menjadi bagian dari bidang yang dikenal sebagai de-extinction, yakni pendekatan ilmiah untuk mengembalikan karakteristik biologis spesies yang telah punah melalui teknologi seperti pengurutan DNA purba, penyuntingan gen, sel punca, dan teknologi reproduksi.
Salah satu perusahaan yang paling agresif mengembangkan teknologi tersebut adalah Colossal Biosciences. Perusahaan ini mengembangkan proyek untuk menghasilkan gajah yang memiliki sejumlah ciri utama mammoth berbulu dan mampu hidup di lingkungan dingin.
Dalam penjelasannya, Colossal menyebut tujuan proyek tersebut bukan sekadar menciptakan hewan yang secara visual menyerupai mammoth. Targetnya adalah menghasilkan gajah yang memiliki karakter biologis yang memungkinkan hidup di lingkungan dingin, termasuk karakteristik rambut, penyimpanan lemak, dan kemampuan fisiologis lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tujuan kami bukan sekadar menghidupkan kembali mammoth berbulu, tetapi menciptakan gajah tahan dingin dengan seluruh ciri biologis utama mammoth berbulu yang dapat menghuni ekosistem yang sebelumnya ditinggalkan oleh kepunahannya,” demikian penjelasan Colossal mengenai proyek tersebut.
Sel Punca Gajah
Salah satu tantangan terbesar dalam proyek ini adalah mengembangkan sistem biologis yang memungkinkan para ilmuwan melakukan eksperimen genetik pada gajah. Pada 2024, Colossal mengumumkan keberhasilan menghasilkan induced pluripotent stem cells (iPSC) dari gajah Asia. Sel iPSC merupakan sel dewasa yang telah diprogram ulang ke kondisi pluripoten, sehingga memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel tubuh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pencapaian tersebut penting karena sel punca dapat menjadi platform untuk mempelajari bagaimana perubahan gen tertentu memengaruhi karakteristik biologis gajah. Para ilmuwan dapat menggunakan sel tersebut untuk menguji hasil penyuntingan gen sebelum melangkah ke tahap yang jauh lebih kompleks, seperti pembentukan embrio.
Majalah ilmiah Nature mencatat bahwa keberhasilan mengubah sel gajah ke kondisi mirip embrionik merupakan langkah penting, tetapi masih terdapat tantangan besar sebelum teknologi tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan hewan dengan karakteristik mammoth.
“Para ilmuwan akhirnya berhasil membawa sel gajah ke kondisi embrionik,” tulis Nature dalam ulasannya mengenai kemajuan teknologi sel punca gajah. Namun, media ilmiah tersebut juga menekankan bahwa penggunaan sel hasil pemrograman ulang untuk menghasilkan mammoth masih jauh dari mudah.
Keberhasilan menghasilkan iPSC gajah juga memiliki manfaat di luar proyek mammoth. Teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk mempelajari penyakit pada gajah dan mengembangkan strategi konservasi bagi spesies gajah yang saat ini terancam punah. Dengan demikian, riset de-ekstensi tidak hanya berorientasi pada spesies yang sudah punah, tetapi juga dapat menghasilkan teknologi yang berguna untuk melindungi kerabatnya yang masih hidup.
Mengapa Gajah Asia?
Gajah Asia (Elephas maximus) menjadi salah satu kandidat utama dalam proyek de-ekstensi mammoth karena memiliki hubungan evolusioner yang dekat dengan mammoth berbulu. Kedua hewan tersebut sama-sama berasal dari kelompok Elephantidae. Karena itu, para ilmuwan dapat membandingkan genom gajah Asia dengan DNA mammoth yang diperoleh dari sisa-sisa tubuh yang terawetkan di lapisan es dan permafrost Siberia serta Alaska.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!