Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ludruk Masih Hidup di Tengah Derasnya Modernisasi, Namun Sejauh Mana Mampu Beradaptasi!

📅 Rabu, 22 Apr 2026, 17:35 WIB | Oleh:
Ludruk Masih Hidup di Tengah Derasnya Modernisasi, Namun Sejauh Mana Mampu Beradaptasi! Doc: ANTARA/Moch Asim
Ket. Pemain dari Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Airlangga (Unair) beradu akting saat pementasan ludruk dengan lakon "Ande-ande Lumut" di Gedung Kesenian Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur.

SURABAYA - Riuh tawa pecah di sebuah panggung sederhana di sudut kota. Seorang pelawak melontarkan parikan, disambut celetukan khas yang mengundang gelak penonton. Di sela humor itu, terselip kritik sosial yang tajam, kadang getir, namun selalu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Itulah ludruk, seni pertunjukan khas Jawa Timur yang lahir dari rakyat, tumbuh bersama rakyat, dan sejatinya berbicara untuk rakyat.

Di Kota Surabaya, ludruk bukan sekadar tontonan. Ia adalah cermin sosial, ruang ekspresi, sekaligus medium komunikasi yang pernah begitu kuat pada masanya.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan selera hiburan, eksistensi ludruk kini berada di persimpangan, yakni antara bertahan sebagai warisan atau bertransformasi menjadi bagian dari masa depan.

Pertanyaannya, bukan lagi apakah ludruk masih hidup, tetapi sejauh mana ia mampu beradaptasi, tanpa kehilangan jiwanya.

Sebaiknya Anda baca juga:


Romantisme dan realitas

Sejarah mencatat, ludruk pernah menjadi primadona hiburan masyarakat urban Surabaya. Pada dekade 1970 hingga 1990-an, pertunjukan ludruk berlangsung hampir setiap malam di berbagai panggung, termasuk di kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR).

Lakon-lakon, seperti “Sarip Tambak Oso” menjadi legenda yang tak lekang oleh waktu, mengisahkan perlawanan rakyat kecil dengan bahasa yang lugas dan membumi.

Kini, lanskap itu berubah drastis. Modernisasi membawa ragam hiburan baru yang lebih cepat, instan, dan visual. Televisi, media sosial, hingga platform digital menggeser pola konsumsi masyarakat. Ludruk, dengan durasi panjang dan format tradisionalnya, perlahan kehilangan panggung reguler.

Data lapangan menunjukkan kondisi yang tidak sederhana. Banyak kelompok ludruk di Surabaya masih tercatat secara administratif, tetapi tidak semuanya aktif. Sebagian mengalami “mati suri” akibat keterbatasan anggota, minimnya panggilan pentas, hingga persoalan ekonomi yang membuat regenerasi tersendat.

Di sisi lain, harapan tetap menyala. Sejumlah kelompok ludruk justru menunjukkan daya tahan dengan melakukan regenerasi. Anak-anak muda mulai dilibatkan, bahkan dari tingkat sekolah dasar, hingga mahasiswa. Upaya ini menjadi sinyal bahwa ludruk belum sepenuhnya kehilangan relevansi.

Fenomena menarik juga terlihat dari dukungan pemerintah kota. Program, seperti pementasan keliling kampung, hingga pelibatan ludruk dalam kegiatan publik menunjukkan adanya ruang yang masih terbuka. Bahkan, dalam konteks tertentu, ludruk digunakan sebagai media komunikasi kebijakan, seperti sosialisasi program pembangunan.

Ini menjadi titik penting bahwa ludruk tidak hanya bertahan sebagai seni pertunjukan, tetapi juga mulai menemukan fungsi baru sebagai medium edukasi dan komunikasi publik.

Hanya saja, di balik itu semua, ada persoalan mendasar yang belum sepenuhnya terjawab, yakni kesinambungan. Pementasan yang bersifat insidental belum cukup untuk membangun ekosistem yang kuat. Ludruk membutuhkan panggung yang konsisten, bukan sekadar ruang tampil sesekali.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Jakarta Masih Menarik bagi ...
Nasional
Piala Dunia Segera Hadir, A...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Jadwal Lengkap Konser Musik di Jakarta Fair Kemayoran PRJ 2026

Jadwal Lengkap Konser Musik di Jakarta Fair Kemayoran PRJ 2026

09 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.