Jaga Prinsip Kehati-hatian, Pemerintah Perlu Pertahankan BI Rate 5,75
📅 Rabu, 22 Jul 2026, 10:26 WIB | Oleh: Aloysius WidiyatmakaDi sisi lain, arus portofolio menunjukkan bahwa dukungan terhadap rupiah masih rapuh.
Arus masuk bersih tercatat 5,65 miliar dolar AS pada Januari-Juli 2026, tetapi banyak ditopang SRBI dan obligasi, sementara saham masih keluar dan rupiah tetap melemah ke sekitar Rp17.895 pada penutupan Jumat (17/7/2026) lalu.
"Ini menunjukkan pola aliran dana yang sensitif terhadap imbal hasil dan mudah berbalik," ujar Josua.
Apabila BI mempertahankan suku bunga, Josua menilai langkah ini bukanlah tanda bank sentral kehilangan ruang kebijakan, melainkan bentuk kehati-hatian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, BI perlu memberi waktu agar kenaikan suku bunga 100 bps bekerja ke pasar uang, obligasi, nilai tukar, kredit, dan ekspektasi inflasi.
Kenaikan suku bunga tambahan yang terlalu cepat dapat memberi sinyal kepanikan dan justru menekan pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, menurut Josua, keputusan mempertahankan suku bunga dengan komunikasi yang tegas dinilai lebih sehat daripada menaikkannya hanya untuk mengejar sentimen jangka pendek.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal senada juga diungkapkan Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky.
Ia mencatat, arus portofolio asing ke Indonesia membaik pada periode 15 Juni hingga 15 Juli 2026, dengan arus masuk bersih mencapai 0,70 miliar dolar AS.
Namun, nilai tukar rupiah melemah sebesar 2,09 persen (month to month/mtm) dari Rp17.690 per dolar AS pada 15 Juni menjadi Rp18.060 per dolar AS pada 15 Juli 2026, meskipun terjadi peningkatan arus masuk portofolio.
Meskipun rupiah terus mengalami tekanan, cadangan devisa Indonesia meningkat dari 144,9 miliar dolar AS pada Mei 2026 menjadi 145,6 miliar dolar AS pada Juni 2026, menandai kenaikan bulanan pertama sejak Januari 2026.
Dari sisi inflasi, LPEM FEB UI memperkirakan inflasi diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran target BI, meskipun risiko kenaikan meningkat menyusul ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah yang berpotensi menaikkan harga energi global dan berkontribusi terhadap inflasi impor.
Adapun pengetatan moneter lebih lanjut, menurut LPEM FEB UI, kemungkinan hanya memberikan dukungan tambahan yang terbatas bagi rupiah, sementara membebankan biaya yang lebih besar pada kredit domestik, investasi, dan aktivitas ekonomi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!