Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

El Nino Suburkan 'Janda Pirang' pada Bawang Merah, Ini Antisipasi Kementan Kendalikan OPT

📅 Rabu, 16 Sep 2026, 11:33 WIB | Oleh: Tim Redaksi
El Nino Suburkan 'Janda Pirang' pada Bawang Merah, Ini Antisipasi Kementan Kendalikan OPT Doc: istimewa
Ket. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), fenomena "janda pirang" pada 2023 turut memicu penurunan luas panen bawang merah di beberapa sentra utama

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat pendampingan dan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) untuk mengantisipasi fenomena mati mendadak pada tanaman bawang merah yang dikenal petani sebagai "janda pirang", terutama di tengah ancaman kekeringan dan perubahan iklim.

Penguatan dilakukan melalui pemantauan pertanaman secara intensif, penguatan sistem deteksi dini, pendampingan petani, serta penyaluran sarana pengendalian OPT yang efektif dan ramah lingkungan.

Direktur Pelindungan Hortikultura Kementan, Leli Nuryati, mengatakan fenomena "janda pirang" yang sempat terjadi di sejumlah sentra bawang merah pada 2023 menjadi pembelajaran penting bagi penguatan strategi antisipasi di lapangan.

"Kejadian 'janda pirang' pada tahun 2023 berlangsung bersamaan dengan kondisi lingkungan yang ekstrem akibat fenomena El Nino, terutama berupa kekeringan dan suhu tinggi. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang mendukung perkembangan fenomena tersebut secara luas dalam waktu relatif singkat," kata Leli, Selasa (15/9).

Fenomena "janda pirang" merupakan sebutan petani untuk menggambarkan kondisi tanaman bawang merah yang berubah warna menjadi kuning hingga menyerupai jerami atau pirang secara serentak pada areal yang luas, kemudian mati dalam waktu relatif singkat. Kondisi ini berpotensi menurunkan hasil bahkan menyebabkan gagal panen.

Fenomena ini pertama kali dilaporkan muncul di Pulau Jawa pada 2023. Kemunculannya bertepatan dengan kemarau panjang akibat El Nino yang ditandai suhu udara tinggi dan kekeringan, serta peningkatan populasi hama trips (Thrips tabaci) secara drastis di sejumlah sentra produksi.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura, fenomena "janda pirang" pada 2023 turut memicu penurunan luas panen bawang merah di beberapa sentra utama.

Memasuki 2024, fenomena tersebut masih ditemukan di lapangan dengan intensitas yang lebih ringan dan tidak disertai ledakan populasi trips. Sementara pada 2025 tidak tercatat adanya laporan fenomena "janda pirang", seiring karakteristik musim kemarau basah berdasarkan informasi BMKG.

Menurut Leli, dinamika kejadian tersebut menunjukkan bahwa kemunculan "janda pirang" berkaitan dengan interaksi kompleks antara kondisi tanaman, serangan OPT, lingkungan, serta dinamika cuaca. Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan setelah gejala muncul, tetapi perlu diperkuat melalui pemantauan dan pengendalian sejak dini.

"Karena itu, pendekatan penanganannya harus dilakukan secara komprehensif dan antisipatif, terutama dengan memperkuat pemantauan kondisi pertanaman, deteksi dini, serta pengendalian OPT di lapangan," ujarnya.

Sebagai bagian dari pengendalian OPT terpadu, Kementan melalui Ditjen Hortikultura mendorong pemanfaatan berbagai metode pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan. Pendampingan kepada petani dilakukan antara lain melalui penyaluran bahan pengendali OPT berupa pestisida nabati serta perangkap lampu (light trap) untuk membantu menekan populasi hama sekaligus mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.

Selain dukungan sarana, pemantauan pertanaman terus dilakukan melalui petugas POPT dan penyuluh pertanian. Sistem deteksi dini diperkuat agar potensi serangan OPT maupun gangguan akibat perubahan kondisi lingkungan dapat diketahui lebih cepat.

Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mengawal petani bawang merah melalui pemantauan lapangan, penguatan deteksi dini, pengendalian OPT terpadu, serta pendampingan budidaya.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Kementan terus melakukan upaya untuk menjaga produksi pertanian menghadapi kekeringan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Menterinya aja kena OTT KPK :D
  • Menekraf: Aplikasi Digital Kini Jadi Denyut Nadi Aktivitas Masyarakat, Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
    Membaca pemaparan komprehensif ini membuat saya semakin optimis ...
  • Ekonomi Kreatif dan UMKM Jakarta Mulai Andalkan Cetak 3D untuk Produksi Skala Kecil
    Mengetahui fakta bahwa penggunaan filamen berbasis PLA yang ...
  • Industri Baterai Dipacu, Transisi Energi dan Ekonomi Digital Jadi Kunci
    Ulasan yang sangat komprehensif dari Koran Jakarta mengenai ...
  • Bos Perusahaan AI Dunia Ingin Perlambat Pengembangan, Persaingan AS-Tiongkok Jadi Hambatan
    Sangat disayangkan melihat bagaimana niat baik untuk mengkaji ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar

Harga Cabai Rawit Rp99.550/Kg, Telur Ayam Rp31.550/Kg

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp99.550/...
Luar Negeri
Jaringan Kereta Api Belanda...
Luar Negeri
DPR AS Tolak Resolusi Pemak...
Advertisement
AS Akui Telah Kerahkan Senjata di Luar Angkasa

AS Akui Telah Kerahkan Senjata di Luar Angkasa

16 Sep 2026
Pilihan Pembaca
# 7
# 7
Korban Pungli Diganti Dua Kali Lipat
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.