Asap Lintas Batas, Karhutla Bukan Lagi Persoalan Domestik
📅 Rabu, 16 Sep 2026, 03:10 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Perubahan arah angin menyebabkan kabut asap lintas batas dari Kalimantan Barat bergeser. Kualitas udara di Sarawak kini mulai membaik, sementara kabut asap kini bergeser ke Semenanjung Malaysia dan Vietnam.
Lead Researcher Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN), Adila Isfandiari, menilai kabut asap lintas batas membuktikan bahwa karhutla bukan lagi persoalan domestik.
“Kabut asap yang kembali melintasi batas negara menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukan lagi persoalan domestik, melainkan krisis lintas batas yang berdampak terhadap lingkungan, kesehatan, dan perekonomian,” ujar Adila.
Menurut Adila, pemerintah perlu mengubah paradigma dari fokus pemadaman menjadi pencegahan, termasuk memperkuat alokasi anggaran.
“Pemerintah perlu memperkuat fokus dan alokasi anggaran untuk pencegahan, bukan hanya pemadaman, antara lain dengan menetapkan koridor hijau dan kawasan lindung permanen yang tidak dapat dialihfungsikan untuk kegiatan bisnis yang merusak ekosistem,” tegasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menambahkan, koridor hijau tetap dapat menghasilkan manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan, misalnya melalui pengembangan ekowisata dan skema nilai ekonomi karbon. Manfaat tersebut harus dikelola secara transparan dan didistribusikan secara berkeadilan, terutama kepada masyarakat adat dan komunitas lokal yang menjaga kawasan tersebut.
“Jika pencegahan karhutla tidak menjadi prioritas, anggaran negara akan terus terkuras untuk memadamkan api dan menanggung kerugian ekonomi yang ditimbulkannya. Padahal, dana publik tersebut seharusnya dapat digunakan untuk membangun fondasi pembangunan yang berkelanjutan, termasuk mempercepat transisi energi,” tandas Adila.
Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi berpandangan, fokus utama saat ini bukan pada polemik gangguan lintas negara, melainkan pada upaya pemadaman dan antisipasi perluasan kebakaran.
Ia pun mendorong kerja sama konkret antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam penanganan bencana bersama dengan berbagi sumber daya.
Cenderung Reaktif
Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya, Aditya Prana Iswara, mengatakan, fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan panjang di berbagai wilayah Indonesia kerap berujung pada kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Selain itu, El Nino juga berpotensi menimbulkan risiko bencana sekunder (secondary disaster).
Menurut Aditya, mitigasi fenomena El Nino tidak akan berjalan optimal apabila penanganan bencana di lapangan masih cenderung reaktif. Menurutnya, upaya tersebut kerap terhambat oleh tata kelola bencana yang tumpang tindih di Indonesia.
“Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan. Baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar,” ungkapnya.
Aditya menyoroti pentingnya kepemilikan cadangan air mandiri sebagai solusi individu dalam meminimalisir risiko krisis air ketika kekeringan melanda. Ia menyebut, reservoir atau cadangan air dapat diupayakan dengan melakukan pemanenan air hujan (rain harvesting).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!