Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Asap Lintas Batas, Karhutla Bukan Lagi Persoalan Domestik

📅 Rabu, 16 Sep 2026, 03:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Asap Lintas Batas, Karhutla Bukan Lagi Persoalan Domestik Doc: ANTARA/Nova Wahyudi
Ket. Lonjakan Kasus ISPA di Pelembang Dampak Karhutla - Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Palembang per 14 September 2026.

JAKARTA - Perubahan arah angin menyebabkan kabut asap lintas batas dari Kalimantan Barat bergeser. Kualitas udara di Sarawak kini mulai membaik, sementara kabut asap kini bergeser ke Semenanjung Malaysia dan Vietnam.

Lead Researcher Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN), Adila Isfandiari, menilai kabut asap lintas batas membuktikan bahwa karhutla bukan lagi persoalan domestik.

“Kabut asap yang kembali melintasi batas negara menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukan lagi persoalan domestik, melainkan krisis lintas batas yang berdampak terhadap lingkungan, kesehatan, dan perekonomian,” ujar Adila.

Menurut Adila, pemerintah perlu mengubah paradigma dari fokus pemadaman menjadi pencegahan, termasuk memperkuat alokasi anggaran.

“Pemerintah perlu memperkuat fokus dan alokasi anggaran untuk pencegahan, bukan hanya pemadaman, antara lain dengan menetapkan koridor hijau dan kawasan lindung permanen yang tidak dapat dialihfungsikan untuk kegiatan bisnis yang merusak ekosistem,” tegasnya.

Ia menambahkan, koridor hijau tetap dapat menghasilkan manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan, misalnya melalui pengembangan ekowisata dan skema nilai ekonomi karbon. Manfaat tersebut harus dikelola secara transparan dan didistribusikan secara berkeadilan, terutama kepada masyarakat adat dan komunitas lokal yang menjaga kawasan tersebut.

“Jika pencegahan karhutla tidak menjadi prioritas, anggaran negara akan terus terkuras untuk memadamkan api dan menanggung kerugian ekonomi yang ditimbulkannya. Padahal, dana publik tersebut seharusnya dapat digunakan untuk membangun fondasi pembangunan yang berkelanjutan, termasuk mempercepat transisi energi,” tandas Adila.

Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi berpandangan, fokus utama saat ini bukan pada polemik gangguan lintas negara, melainkan pada upaya pemadaman dan antisipasi perluasan kebakaran.

Ia pun mendorong kerja sama konkret antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam penanganan bencana bersama dengan berbagi sumber daya.

Cenderung Reaktif

Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya, Aditya Prana Iswara, mengatakan, fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan panjang di berbagai wilayah Indonesia kerap berujung pada kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Selain itu, El Nino juga berpotensi menimbulkan risiko bencana sekunder (secondary disaster).

Menurut Aditya, mitigasi fenomena El Nino tidak akan berjalan optimal apabila penanganan bencana di lapangan masih cenderung reaktif. Menurutnya, upaya tersebut kerap terhambat oleh tata kelola bencana yang tumpang tindih di Indonesia.

“Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan. Baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar,” ungkapnya.

Aditya menyoroti pentingnya kepemilikan cadangan air mandiri sebagai solusi individu dalam meminimalisir risiko krisis air ketika kekeringan melanda. Ia menyebut, reservoir atau cadangan air dapat diupayakan dengan melakukan pemanenan air hujan (rain harvesting).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak

Permudah Akses WLKP, Kemnaker Sediakan Tiga Pusat Aduan

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Permudah Akses WLKP, Kemnak...
Advertisement
Dampak Karhutla, Gangguan Penerbangan Meluas hingga Sulawesi dan Sumatera Bagian Utara

Dampak Karhutla, Gangguan Penerbangan Meluas hingga Sulawesi dan Sumatera Bagian Utara

18 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.