Industri Baterai Dipacu, Transisi Energi dan Ekonomi Digital Jadi Kunci
📅 Senin, 14 Sep 2026, 23:55 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Prospek industri baterai nasional semakin menjanjikan seiring berkembangnya transisi energi dan ekonomi digital yang mendorong peningkatan kebutuhan sistem penyimpanan energi.
Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya F Arif mengatakan perkembangan industri baterai saat ini menunjukkan prospek yang lebih baik dibandingkan proyeksi ketika IBC didirikan pada 2021.
"Ternyata, seiring berjalannya waktu, malah lebih baik lagi daripada di forecast sebelumnya. Kita lihat key drivers dari perkembangan baterai itu sekarang ada dua. Dulu mungkin kita hanya bicara transisi energi, tapi sekarang ada digital economy," kata dia di Jakarta, Senin (14/9).
Transisi energi mendorong penggunaan baterai untuk mendukung integrasi energi terbarukan serta peralihan kendaraan konvensional menuju kendaraan listrik.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi digital, khususnya pembangunan pusat data, turut meningkatkan kebutuhan baterai untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan dan penyimpanan energi.
Aditya mengatakan pertumbuhan terbesar ke depan diperkirakan terjadi pada segmen battery energy storage system (BESS), yang dibutuhkan untuk mendukung pusat data.
"Karena ini digunakan untuk baik data center maupun untuk energy transition," ujarnya.
Disampaikan dia, IBC membangun ekosistem industri baterai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, dengan cakupan utama saat ini pada sektor midstream hingga daur ulang baterai.
IBC memiliki sejumlah portofolio bersama mitra strategis, termasuk Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL).
Selain itu, IBC menyiapkan dukungan energi terbarukan melalui rencana pemasangan PLTS berkapasitas 18 MW pada 2027.
Aditya menilai perkembangan teknologi baterai masih membuka peluang bagi Indonesia untuk mempertahankan peran nikel dalam rantai pasok global, meskipun saat ini teknologi Lithium Ferro-Phosphate (LFP) mendominasi pasar.
Oleh karena itu, inovasi menjadi kunci agar industri baterai berbasis nikel tetap kompetitif sekaligus memperluas manfaat hilirisasi ke komoditas lain.
"Jadi kalau kita punya industri baterai yang sovereign, yang maju, yang berdaulat, sebetulnya kita juga punya kesempatan untuk mendapatkan dampak ekonomi yang lebih besar lagi dari komoditas-komoditas lain, tidak hanya nikel," kata Aditya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!