Terbentuk dari Letusan Gunung Api Purba
📅 Sabtu, 20 Apr 2024, 06:25 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
Rawa Danau atau Dono dalam bahasa setempat, saat ini statusnya merupakan cagar alam dengan nama Cagar Alam Rawa Danau (CARD). Dengan luas 3.542,60 hektare wilayah yang luas ini terbentuk oleh letusan gunung api purba.
Laman Dinas ESDM Provinsi Banten menyebutkan, fakta geologi menunjukkan bahwa batuan di sekeliling Rawa Danau merupakan produk dari gunung api. Batuan tersebut berada dari hasil pembekuan lava atau endapan batuan yang terlontar saat terjadinya erupsi gunung api seperti breksi gunung api, lapili, tuf atau endapan lahar.
Sementara endapan di area Rawa Danau yang berupa hamparan rawa dan persawahan tersusun oleh kerikil, pasir, lempung dan lumpur. Material pembentuknya berasal dari hasil rombakan dari batuan gunung api.
Aktivitas vulkanik dari gunung api purba di kawasan ini bahkan masih bisa dirasakan. Salah satu buktinya adalah adanya beberapa sumber mata air panas di daerah Rawa Danau dan sekitarnya seperti di Desa Batukuwung, Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang, juga di Desa Cikedung, Kecamatan Mancak, dan masih banyak lagi.
Sumber-sumber mata air panas itu adalah bentuk manifestasi panas bumi yang berasal dari kegiatan magmatik di bawah permukaan, baik sebagai gunung api masih aktif maupun sedang dalam proses pembekuan magma yang berupa pelepasan panas ke permukaan dengan perantaraan siklus air meteorit atau air tanah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan hasil penelitian para ahli geologi dapat disimpulkan bahwa batuan paling tua yang tersingkap di Kawasan Rawa Danau dan sekitarnya adalah batuan gunung api berumur akhir zaman Tersier hingga awal zaman Kuarter, pada kala Pliosen-Plistosen. Batuan tertua ini berupa batu Basal Batukuya-Anakanakan (QTvba) yang tersusun dari aliran lava basal menurut Rusmana dkk (2001).
Batuan ini tersingkap di bagian barat Rawa Danau membentuk perbukitan rendah dengan puncak-puncaknya yaitu yang disebut dengan Gunung Batukuya (245 m), Gunung Bentung (232 m), dan Gunung Anakanakan.
Kemudian kemudian disusul oleh aktivitas gunung api yang semakin dominan di kawasan ini dengan hadirnya gunung api purba besar pada awal Kala Pleistosen atau sekitar 2 juta tahun yang lalu, berpusat di Rawa Danau. Oleh karenanya tempat ini bisa disebut sebagai Gunung Api Danau Purba.
Sebaiknya Anda baca juga:
Aktivitas gunung ini secara umum terbagi dalam dua periode letusan utama yaitu periode Gunung api Danau Tua dan Gunung api Danau Muda. Periode gunung api Danau Tua yang diduga terjadi pada awal Kala Pleistosen atau sekitar 2 juta tahun yang lalu.
Letusan itu saat ini menyisakan morfologi perbukitan memanjang dengan tepian membentuk gawir atau tebing terjal di bagian utara Rawa Danau. Puncak-puncak gunungnya dinamai Gunung Galenggang (655 m) dan Gunung Sarengan (711 m). Material penyusunnya disebut sebagai Batuan Gunungapi Galenggang-Sarengan (Qvgs) yang terdiri atas aliran lava basalt dan breksi gunung api menurut Rusmana, dkk (2001).
Material yang terlontar saat erupsi Gunung Danau Tua disebut sebagai tuf Banten Bawah (Qvlb) tersebar di sebelah barat dan barat daya Rawa Danau. Litologi penyusunnya terdiri atas breksi tuf, breksi batuapung, tuf lapili dan sedikit aglomerat. Sedangkan periode gunung api Danau Muda diperkirakan terjadi pada Pleistosen Tengah - Akhir atau sekitar 1 juta tahun yang lalu.
Letusannya menyisakan morfologi pegunungan yang kini tersebar di sebelah barat laut Rawa Danau dengan beberapa kerucut seperti Gunung Gede (774 m), Gunung Tukung (702 m), Gunung Pabeasan (588 m), dan beberapa puncak bukit lain dengan ketinggian 400 hingga 680 meter.
Penamaan litologi untuk satuan ini disebut sebagai Batuan Gunungapi Gede-Pabeasan (Qvgp). Litologi penyusunnya berupa lava andesit-basalt dan breksi gunung api menurut Rusmana. Adapun material halus yang terlontar dari erupsi Gunung Danau Muda tersebar sangat luas menutupi sebagian besar wilayah Kabupaten Serang, Kota Cilegon bagian selatan dan bagian barat Kabupaten Tangerang.
Material ini disebut sebagai tuf Banten Bagian Atas (Qvtb) menurut S Santosa dalam Peta Geologi Lembar Anyer (1991). Secara litologi, tuf Banten tersusun oleh material tuf, tuf berbatu apung, dan pasir tufan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!