Kualitas Nutrisi Susu Nasional Ditentukan Integrasi Hulu-Hilir
📅 Kamis, 11 Jun 2026, 16:45 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Kualitas makro dan mikro nutrien dari produk susu yang dikonsumsi masyarakat tidak tercipta secara instan, melainkan ditentukan oleh ketatnya pengawasan rantai pasok dari hulu hingga hilir. Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu IPB University, Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt., M.V.P.H., M.Si., dalam momentum peringatan World Milk Day (Hari Susu Sedunia) dan Hari Susu Nusantara 2026.
Menurut Prof. Epi, penguatan produksi susu segar nasional saat ini menghadapi tantangan besar yang memerlukan solusi sistemik. Ia menekankan bahwa penyediaan susu berkualitas tinggi dan aman bagi konsumen hanya bisa dicapai melalui ekosistem yang terintegrasi secara total.
"Di balik setiap produk susu yang dikonsumsi masyarakat, terdapat proses panjang yang dimulai dari pengelolaan peternakan hingga pengolahan modern yang memastikan susu tetap aman, higienis, dan bernutrisi," ujar Prof. Epi di Jakarta melalui siaran pers pada hari Kamis (10/6).
Intervensi Teknologi Jadi Kunci Aksesibilitas
Sebagai pakar teknologi susu, Prof. Epi menyoroti pentingnya peran teknologi pemrosesan modern dalam mempertahankan kemurnian gizi pasca-panen. Di tengah tantangan geografis Indonesia, teknologi pengolahan menjadi jembatan krusial agar nutrisi susu dapat didistribusikan secara merata tanpa merusak kualitasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Teknologi seperti UHT (Ultra High Temperature) membantu menjaga kualitas makro dan mikro nutrien dalam susu, sekaligus membuat produk susu lebih aman dan mudah diakses masyarakat di berbagai daerah dan sesuai dengan kebutuhan nutrisi pada setiap tahap kehidupan," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa penguatan industri susu domestik tidak bisa berjalan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi kuadripartit yang kuat antara pihak industri, peternak, akademisi, dan pemerintah agar standar mutu produk tidak terdegradasi sejak dari ambing sapi hingga ke meja makan konsumen.
Merespons Sektor Hulu: Komitmen Good Dairy Farming Practices
Pandangan Prof. Epi mengenai standardisasi di tingkat hulu diamini oleh pelaku di lapangan. Rumini, seorang peternak sapi perah perempuan dari Young Progressive Farmers Academy (YPFA) binaan Frisian Flag Indonesia (FFI), mengungkapkan bahwa kualitas susu segar yang disetorkan ke pabrik sangat bergantung pada kedisiplinan peternak rakyat.
Para peternak lokal saat ini terus dipacu untuk mengadopsi Good Dairy Farming Practices (GDFP) guna mendongkrak produktivitas sekaligus higienitas. "Kami terus belajar meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu segar melalui praktik peternakan yang lebih modern dan berkelanjutan," kata Rumini.
Kesiapan Sektor Hilir Melalui Industrialisasi Modern
Di sisi lain, kebutuhan ekosistem terintegrasi yang disuarakan oleh Prof. Epi direspons oleh sektor manufaktur melalui investasi infrastruktur. FFI mengoperasikan fasilitas produksi modern di Cikarang, Jawa Barat, yang berdiri di atas lahan seluas 25,4 hektare.
Pabrik berkapasitas 700 juta kilogram produk susu per tahun ini mengolah pasokan susu segar dari 30 ribu peternak lokal di Pulau Jawa. Langkah industrialisasi hilir ini menjadi komponen penting untuk merealisasikan teori pemenuhan gizi yang aman, higienis, dan terjangkau secara massal.
Marketing Director FFI, Intan Ayu Kartika, menambahkan bahwa jaminan kualitas produksi dari hulu ke hilir ini menjadi modal dasar bagi perusahaan untuk mengampanyekan gerakan sehat “Kebaikan Susu Temani Langkahmu, Kini dan Nanti”. Edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang dan konsumsi susu secara konsisten di tingkat keluarga diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam membangun generasi Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing ke depan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!