Kisah Si Doel Bukan Hanya soal Jakarta, Tapi Tentang Bagaimana Masyarakat Betawi Tetap Miliki Tempat
📅 Kamis, 17 Sep 2026, 19:05 WIB | Oleh: OpikKetika kota diarahkan menjadi kota global, kebutuhan terhadap identitas justru harus mengakar kuat. Identitas lokal menjadi pembeda yang membuat sebuah kota memiliki karakter.
Jakarta memiliki sejarah, masyarakat dan kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang kota ini.
Kebudayaan tidak cukup ditempatkan sebagai urusan pertunjukan atau seremoni. Ia perlu hadir dalam kehidupan kota.
Arah kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menyambut 500 tahun Jakarta bergerak ke wilayah tersebut. Penguatan jejaring kebudayaan Betawi, pengembangan titik-titik budaya di 44 kecamatan dan 267 kelurahan, hingga pengembangan kembali Anjungan Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah menunjukkan upaya membawa kebudayaan lebih dekat dengan masyarakat sekaligus memperkenalkannya kepada generasi baru.
Sebenarnya, budaya tidak harus dipertentangkan dengan modernitas.
Teknologi dapat digunakan untuk mengenalkan tradisi. Ruang budaya dapat dikembangkan dengan cara yang lebih sesuai dengan generasi sekarang. Tradisi dapat tampil dalam bentuk baru tanpa harus kehilangan akar filosofinya.
Jakarta yang terus bertumbuh dan mengalami perubahan itu harus memberi ruang bagi cerita lama untuk hidup dalam bentuk yang baru. Kampung di Jakarta sebaiknya tetap memiliki nilai tumbuh di dalamnya: kedekatan sosial, gotong royong, identitas, dan hubungan antargenerasi.
Si Doel mungkin tidak pernah dirancang untuk menjadi simbol Jakarta selama puluhan tahun. Namun waktu yang membuatnya menjadi semacam cermin.
Ketika Jakarta berubah, orang kembali melihat Si Doel dan menemukan bagian dari kota yang mungkin sudah tidak mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Itulah kekuatan sebuah karya budaya. Ia bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Jakarta akan memasuki usia lima abad. Gedung-gedung baru akan terus berdiri, sistem transportasi akan semakin berkembang, teknologi akan mengubah cara orang bekerja, dan wajah kota akan kembali mengalami perubahan. Semua pertumbuhan itu bagus.
Tetapi kelak, ketika generasi yang lahir hari ini berbicara tentang Jakarta, mereka juga membutuhkan sesuatu yang lebih manusiawi daripada daftar pembangunan.
Mereka membutuhkan cerita tentang siapa yang pernah tinggal di kota ini, bagaimana mereka hidup, apa yang mereka percayai, dan nilai apa yang membuat mereka merasa bahwa Jakarta adalah rumah.
Si Doel menyimpan sebagian dari cerita itu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!