Kisah Si Doel Bukan Hanya soal Jakarta, Tapi Tentang Bagaimana Masyarakat Betawi Tetap Miliki Tempat
📅 Kamis, 17 Sep 2026, 19:05 WIB | Oleh: OpikIdentitas kota
Identitas sebuah kota sering kali lahir dari ruang-ruang kecil seperti itu. Si Doel menangkapnya.
Cerita Si Doel tidak menghadirkan Jakarta sebagai kumpulan gedung pencakar langit. Ia menghadirkan sebuah keluarga dan lingkungan sosial dengan berbagai persoalannya. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, hubungan orang tua dan anak, kehidupan ekonomi, hingga perubahan cita-cita menjadi bagian dari cerita. Si Doel pada dasarnya lebih dari sebuah tontonan populer.
Si Doel adalah rekaman sosial dalam bentuk cerita. Tentu saja, sebuah sinetron atau karya fiksi tidak bisa menggantikan buku sejarah. Namun karya budaya memiliki kemampuan yang kadang tidak dimiliki dokumen sejarah. Yaitu ingatan-ingatan yang masuk ke dalam memori inti.
Penonton Si Doel dulu, mungkin sudah hapal rumah adat Betawi itu seperti apa, alat musiknya, bahasanya, pakaian adatnya, yang secara tak sadar dipahami dari adegan-adegan sinetron tersebut.
Orang yang tidak pernah mengalami Jakarta beberapa dekade lalu dapat membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat pada masa itu melalui rumah, pakaian, kendaraan, percakapan dan hubungan antartokoh.
Buku Filosofi Orang Kampung ini kembali membuka cerita tentang bagaimana Si Doel dibuat, dan juga mengajak pembaca melihat kembali dunia yang melahirkan tokoh tersebut.
Perjalanan Si Doel pun tidak selamanya tinggal di kampung. Doel yang bersekolah hingga menjadi "tukang insinyur", mengejar pendidikan dan memasuki dunia yang lebih luas. Si Doel menceritakan bahwa masyarakat Betawi juga berubah.
Doel memperlihatkan bahwa seseorang bisa bergerak jauh dari tempat asalnya tanpa harus memutus hubungan dengan akar yang membentuk dirinya.
Mungkin di situlah pelajaran penting yang dapat dibawa ke Jakarta hari ini. Pelestarian budaya tidak harus berarti mengawetkan masa lalu.
Kalau budaya hanya diperlakukan sebagai benda yang harus disimpan, ia akan semakin jauh dari kehidupan generasi baru. Budaya justru akan tetap hidup ketika nilai-nilainya mampu masuk ke dalam kehidupan yang berubah.
Jakarta sedang menghadapi perubahan itu.
Kota global
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!