Makan Tomat Bisa Cegah Kanker Prostat? Ini Fakta Medis di Balik Likopen
📅 Kamis, 17 Sep 2026, 17:51 WIB | Oleh: Opik"Jadi memang semakin tua, kita laki-laki sudah dikasih Tuhan akan ada kecenderungan untuk membesar prostatnya dan risiko menjadi kankernya memang makin besar, semakin tua," kata Andar dalam sesi temu media di Jakarta, Kamis.
Andar mengatakan peluang pria terkena pembesaran kelenjar prostat dan kanker prostat akan meningkat seiring bertambahnya usia. Dalam hal ini, adanya riwayat keluarga yang pernah terkena kanker prostat dapat menurun pada generasi berikutnya.
Faktor genetik seperti terjadinya mutasi gen BRCA juga disebutnya dapat meningkatkan angka kejadian dan keparahan penyakit.
"Mungkin kalau ada yang ayahnya sudah kena kanker prostat, itu sudah mulai harus hati-hati, harus segera skrining lebih awal," ujar dokter lulusan Universitas Indonesia itu.
Faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker prostat adalah gaya hidup pasif, obesitas, penyakit kardiovaskular hingga hipertensi. Adapun perilaku tidak sehat yang Andar sebutkan seperti merokok, banyak mengonsumsi makanan tidak sehat seperti seblak dan meminum alkohol.
Ia melanjutkan bahwa pada usia lanjut, kebanyakan pria akan mengalami benign prostatic hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak. Kondisi ini menurut Andar tidak termasuk dalam penyakit kanker, tetapi mengganggu aliranurine.
Berdasarkan data yang ia beberkan, BPH memengaruhi hidup sekitar 50 persen pria berusia 50 tahunan. Persentase kejadian meningkat tajam sebesar 90 persen pada pria di atas usia 80 tahun.
Gejala yang dapat dirasakan dibagi menjadi dua. Pada gejala iritasi yang dirasakan berupa frekuensi buang air kecil tidak normal, terjadi secara terus menerus sepanjang hari, terbangun beberapa kali di malam hari hanya untuk buang air kecil dan kesulitan menahan urine yang tiba-tiba atau tak terkendali.
Sementara pada gejala obstruktif seperti aliran urine melambat dan tersendat, terpaksa mengejan menggunakan otot perut untuk mengeluarkan urine, sampai dengan merasa kandung kemih penuh meski telah buang air kecil.
"Padahal si otot kandung kemih itu dia punya otot, jadi enggak perlu otot perut buat kencing. Buat perempuan juga sebenarnya, jadi kita enggak perlu mengejan buat kencing. Kalau teman-teman mengejan itu sudah tanda peringatan sebenarnya," kata Andar.
Dengan demikian, Andra menyarankan seluruh pria di atas usia 50 tahun di Indonesia segera melakukan deteksi dini seperti pemeriksaan Prostate-Specific Antigen (PSA), terutama bagi pihak yang memiliki riwayat keluarga.
Bila hasil pemeriksaan PSA mendapati nilai lebih dari 4,0 ng/mL, dokter dapat mencurigai pasien berisiko terkena kanker prostat dan akan melakukan pemeriksaan lanjutan seperti MRI sebelum memutuskan apakah pasien memerlukan operasi atau tidak.
Dokter yang kini praktik di Rumah Sakit Pondok Indah-Pondok Indah itu juga menyampaikan masyarakat tidak perlu khawatir karena teknologi dalam dunia kedokteran untuk menangani kanker prostat kian modern.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!