Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Rakyat Sampai Mati Kelaparan Bukan Mendadak Terjadi

📅 Jumat, 05 Agu 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Rakyat Sampai Mati Kelaparan Bukan Mendadak Terjadi Doc: ANTARA/ HUMAS BPBD PAPUA
Ket. Warga Lanny Jaya, Papua meratapi lahan kebun mereka yang rusak akibat fenomena embun beku yang memicu kekeringan dan kelaparan yang mengakibatkan empat orang meninggal Dunia.

JAKARTA - Sedikitnya empat orang meninggal di Kabupaten Lanny Jaya, Papua karena kelaparan. Hal itu karena dalam satu bulan terakhir warga di dua kabupaten mengalami gagal panen karena kekeringan.

Peneliti pertanian yang juga pengajar di Universitas Papua, Mulyadi kepada wartawan BBC News Indonesia mengatakan terganggunya ketahanan alam di Papua disebabkan faktor manusia, bukan iklim. "Warga Papua itu kan mayoritas petani dan peladang yang tinggal di pegunungan selama ribuan tahun, jadi kalau mereka kelaparan itu aneh, berhadapan dengan iklim yang berubah-ubah begitu sudah biasa," kata Mulyadi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Papua, Wiliam Manderi mengatakan timnya kini tengah berada di lokasi untuk mengecek kepastian di lapangan seperti apa. "Baik itu kerusakannya maupun kerugiannya, lalu kebutuhan apa yang harus dipantau dan ditanggulangi," kata Wiliam.

Menurutnya, lokasi kejadian cukup sulit untuk dicapai, dua jam terbang dengan pesawat dari Jayapura, disambung kurang lebih dua jam berjalan kaki. Dari laporan sementara diketahui sedikitnya empat orang meninggal dunia, sementara sekitar 500 orang kelaparan.

Organisasi pemerhati lingkungan hidup, Walhi mencatat gagal panen warga dipicu peristiwa embun beku di dataran tinggi Lanny Jaya. Sedangkan, masyarakat sangat bergantung pada hasil kebun mereka. "Di sana satu-satunya sumber makanan mereka adalah dari hasil berkebun," kata Direktur Eksekutif Walhi Papua, Maikel Primus Peuki.

Menanggapi bencana kelaparan tersebut, Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi mengatakan negara dari satu rezim ke rezim berikutnya telah mengabaikan pembangunan pertanian sesuai dengan kearifan lokal guna mencapai kemandirian pangan. "Kalau sekarang masih ada yang mati kelaparan, tidak masuk akal apalagi sudah hampir 77 tahun merdeka. Kelaparan itu bukan mendadak," kata Badiul.

Sementara di wilayah perkotaan, bank-bank jor-joran menyalurkan kredit properti sampai ribuan triliun rupiah. Dengan kredit macet yang belum pernah dibuka dan terus di jadwal ulang (plafondering) itu menunjukkan kalau sistem keuangan negara dan perbankan mengabaikan pembangunan rakyat.

"Kalau hal paling utama yakni mengisi perut saja tidak benar, apalagi pendidikan, perumahan, dan kesehatan. Keluhan di Papua itu hanya di satu tempat. Bisa jadi jumlahnya lebih banyak sebenarnya yang kelaparan. Sementara yang di Jakarta pesta pora, rakyat di daerah diabaikan," katanya.

Pemerintah jelasnya tidak bisa melepas tanggung jawab dengan berdalih kalau hal itu sudah menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah (Pemda) karena otonomi daerah.

"Kalau tidak peduli terus rakyat mati kelaparan itu bukan karena otonomi, tapi itu sama saja menganggap daerah yang terkena bencana sebagai negara lain, bukan NKRI. Walaupun otonomi, kalau terancam kelaparan seharusnya diperhatikan. Rakyat mati kelaparan itu bukan mendadak. Perlu 10 sampai 14 hari bagi manusia untuk mati kelaparan dan perlu tujuh hari untuk bisa tahu cukup tidaknya makanan," katanya.

Dia pun menyangsikan angka kemiskinan, jangan-jangan angka sebenarnya bisa 100 juta penduduk.

Hentikan Pembayaran Bunga Obligasi Rekap

Badiul pun meminta Pemerintah agar cepat merespons masalah kelaparan di Papua sehingga tidak meluas dan makin banyak korban jiwa. Dan penyelenggara negara harus menghentikan pembayaran bunga obligasi rekap sebesar 400 triliun rupiah per tahun hingga tahun 2043 dan mempercepat penagihan piutang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia untuk memperkuat pembiayaan melalui APBN.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Lokasi Durian Premium Tengah Disiapkan di Kabupaten Kaur

13 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Lokasi Durian Premium Tenga...
Olahraga
Tugas Berat Fajar/Fikri di ...
Nasional
Akademisi Berikan Apresiasi...
Megapolitan
Lebak Terapkan Teknologi IB...
Megapolitan
Kebakaran Gudang Konveksi d...

Raja Ampat Belajar Menanam Kakao

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Raja Ampat Belajar Menanam ...
Luar Negeri
Versi Baru Jet Tempur Akan ...
Daerah
Lembaga Adat Aceh Tak Dibia...

Hari Ini Mungkin Hujan Akan Mengguyur Kota-kota

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Hari Ini Mungkin Hujan Akan...
Tugas Berat Fajar/Fikri di Final China Open, Mempertahankan Dua Prestasi

Tugas Berat Fajar/Fikri di Final China Open, Mempertahankan Dua Prestasi

26 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.