Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pengelolaan Museum Kretek Ditawarkan ke Swasta, Ada Apa?

📅 Kamis, 17 Sep 2026, 19:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pengelolaan Museum Kretek Ditawarkan ke Swasta, Ada Apa? Doc: ANTARA/ Yusuf Nugroho.
Ket. Pengunjung melihat bahan pembuatan rokok di Museum Kretek yang didirikan pada 3 Oktober 1986, Kudus, Jawa Tengah.

KUDUS – Pengelolaan kawasan museum oleh pihak swasta mulai menjadi salah satu alternatif untuk mendorong revitalisasi dan meningkatkan daya tarik destinasi budaya.

Keterlibatan swasta dapat menghadirkan inovasi dalam pengelolaan, pemanfaatan teknologi, hingga pengembangan pengalaman pengunjung tanpa menghilangkan fungsi museum sebagai ruang edukasi dan pelestarian sejarah.

Tantangannya adalah memastikan orientasi komersial tetap berjalan seimbang dengan kepentingan publik, nilai sejarah, serta akses masyarakat terhadap warisan budaya.

Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menawarkan pengelolaan sebagian kawasan Museum Kretek Kudus kepada pihak swasta dengan nilai penawaran sebesar Rp353 juta per tahun, sebagai upaya pemerintah daerah meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

"Nilai penawaran kepada swasta sebesar itu, berdasarkan hasil penilaian Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP)," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus Abdul Halil ditemui usai mendampingi Bupati Kudus Sam'ani Intakoris menerima perwakilan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Museum Kretek Kudus di Pendopo Kudus, Rabu (17/9).

Menurut dia, saat ini sudah ada pihak swasta yang menyatakan kesiapan untuk mengelola sebagian kawasan di kompleks Museum Kretek. Namun, perjanjian kerja sama atau sewa masih dalam tahap penyusunan draf dan perlu disempurnakan.

Abdul Halil menjelaskan tidak seluruh kawasan Museum Kretek akan dikelola pihak swasta. Museum Kretek, Rumah Adat Kudus, serta beberapa lahan lainnya, masih tetap menjadi bagian yang dikelola oleh pemerintah melalui dinas terkait. Sedangkan yang ditawarkan swasta meliputi area wahana waterboom hingga lahan di sisi timur dan area parkir.

Karena terdapat kebutuhan investasi yang cukup besar, Pemkab Kudus membuka kemungkinan masa kerja sama lebih dari lima tahun. Namun, mengenai jangka waktu tersebut masih akan mempertimbangkan arahan dan kebijakan pimpinan.

Terkait pedagang kaki lima (PKL), kata Abdul Halil penataan kawasan Museum Kretek tidak dimaksudkan untuk mengusir pedagang yang selama ini berjualan di tepi jalan raya depan kompleks museum karena mereka tetap dipersilakan berdagang.

"Pemkab justru berencana melakukan penataan agar keberadaan PKL dapat berkembang dan naik kelas. Penataannya akan dikoordinasikan dengan sejumlah pihak, termasuk pemerintah desa dan perangkat daerah yang membidangi perdagangan. Perwakilan PKL juga akan dilibatkan dalam pembahasan skema penataan," ujarnya.

Abdul Halil menambahkan, kerja sama dengan pihak ketiga diharapkan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi Pemkab Kudus. Selain memperoleh pendapatan dari nilai kerja sama, pemerintah juga tidak lagi menanggung sejumlah biaya operasional pada bagian kawasan yang dikelola pihak ketiga, seperti gaji pegawai dan kebutuhan listrik.

Selama ini, pendapatan dari aset tersebut dinilai masih memiliki ruang untuk ditingkatkan. Karena dari target penerimaan Rp700-an juta setiap tahunnya, realisasinya berkisar 70-75 persen. Sedangkan objeknya, mulai dari Museum Kretek Kudus, water park kolam arus, mandi bola, ember tumpah, terapi ikan, trampolin, gantangan burung, dan mini movie.

Dengan skema tersebut, Pemkab Kudus berharap pengelolaan kawasan Museum Kretek dapat lebih optimal sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kawasan dan kontribusinya terhadap PAD.

Dedi Supriyadi, Ketua Paguyuban PKL Museum Kretek Kudus, mengakui beraudiensi dengan Bupati Kudus karena mendengar adanya penyerahan pengelolaan museum kepada pihak swasta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Impor Pelumas RI Tembus Ribuan Ton, Menperin Resmikan Pabrik Raksasa Shell, Libatkan 50 Vendor Lokal
    Kehadiran fasilitas produksi berkapasitas 12.000 ton per tahun ...
  • Pameran Fi Asia Indonesia 2026 Perluas Akses Industri terhadap Teknologi Pangan Global
    Ulasan yang sangat mencerahkan terutama pada pandangan Dr. ...
  • Wali Kota: Pemkot Bandung Dorong Industri Sepatu Perluas Pasar Ekspor
    Langkah strategis Pemkot Bandung menyoroti urgensi Surat Keterangan ...
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Orang kepercayaan Menterinya aja kena OTT KPK ...
  • Menekraf: Aplikasi Digital Kini Jadi Denyut Nadi Aktivitas Masyarakat, Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
    Membaca pemaparan komprehensif ini membuat saya semakin optimis ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Ekonomi
Barantin: Ekspor Florikultu...
Luar Negeri
WHO Ajukan Pendanaan Tambah...
Advertisement
Kecelakaan KM Virgo Jadi Perhatian Internasional, Hong Kong dan AS Bantu Operasi “Salvage”

Kecelakaan KM Virgo Jadi Perhatian Internasional, Hong Kong dan AS Bantu Operasi “Salvage”

17 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.