Musim Panen Tiba, 546 Ton Tembakau Jadi Asa Petani Tulungagung
📅 Selasa, 15 Sep 2026, 22:40 WIB | Oleh: Tim PenulisTULUNGAGUNG – Di tengah hamparan lahan yang mulai dipenuhi aroma khas daun tembakau, Kelompok Tani Makmur di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, memasuki masa panen yang telah dinanti.
Dari lahan seluas 26 hektare, para petani memperkirakan produksi tembakau tahun ini mencapai 546 ton, menjadi penanda dimulainya musim panen sekaligus harapan atas hasil usaha mereka sepanjang musim tanam.
Ketua Kelompok Tani Makmur Endri Cahyono, di Boyolangu, Selasa (15/9), mengatakan, panen tembakau dilakukan sekali dalam setahun, dengan produktivitas rata-rata sekitar 21 ton tembakau siap panen per hektare.
Di Desa Kendalbulur sendiri, ia menjelaskan, total lahan tembakau mencapai sekitar 112 hektare.
"Saat ini kami sudah mulai memanen tembakau. Selama setahun, tanaman tembakau bisa dipanen satu kali saja," kata Endri.
Dari produksi kelompoknya, sebagian besar diserap pasar lokal, termasuk untuk memenuhi kebutuhan rokok linting.
Sementara pasokan yang terserap pabrik rokok diperkirakan hanya sekitar 10 persen.
"Tembakau kami banyak yang diserap oleh pasar lokal, sehingga untuk memenuhi kebutuhan pabrik rokok hanya kami layani semampu kami atau sekitar 150 ton per tahun," ujarnya.
Endri mengatakan harga tembakau basah saat ini berkisar Rp1.500 hingga Rp11 ribu per kilogram, sedangkan tembakau kering dijual mulai Rp130 ribu per kilogram, bergantung pada kelas atau kualitasnya.
Harga tembakau kering berpeluang meningkat setelah panen raya seiring tingginya permintaan pasar lokal dibandingkan pasokan ke pabrik.
Endri memproyeksikan harga dapat mencapai Rp180 ribu per kilogram pada April atau Mei mendatang.
"Biasanya pascapanen raya, di bulan April atau Mei nanti harganya bisa mulai naik lagi. Kalau saat ini, harganya masih stabil segitu," katanya.
Menurut Endri, kondisi kemarau panjang tahun ini relatif menguntungkan petani karena tembakau membutuhkan kondisi lahan yang sesuai untuk pertumbuhannya.
Namun, petani tetap menghadapi ancaman penyakit layu Fusarium yang dapat menyebabkan tanaman menguning dan mati sebelum waktunya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!