Masih Terus Bergantung ke Energi Fosil, Manufaktur RI Tumbuh Melambat
📅 Kamis, 06 Agu 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi» Tekanan global untuk beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan membuat ketergantungan pada batubara semakin berkurang dalam jangka panjang.
JAKARTA - Masih tingginya kebergantungan Indonesia pada energi fosil akhirnya berdampak pada pertumbuhan industri pengolahan atau manufaktur pada triwulan II (Q2) 2026 yang melambat.
Hal itu seperti disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan perlambatan pertumbuhan industri pengolahan pada Q2-2026 terutama didorong oleh kontraksi pada subsektor industri batubara dan pengilangan minyak bumi dan gas (migas).
Industri pengolahan tercatat tumbuh 4,52 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Q2-2026 melambat dari pertumbuhan 5,68 persen (yoy) pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8) mengatakan untuk non migas mencatat pertumbuhan yang baik, sedangkan nonmigas terutama industri pengilangan migas malah negatif.
Edy menjelaskan bahwa industri batubara dan pengilangan migas mengalami kontraksi sebesar 3,97 persen (yoy) pada Q2-2026 dan kontraksi 0,15 persen secara kumulatif (cumulative to cumulative/ctc) pada semester I 2026.
Menurutnya, kontraksi pada kedua subsektor tersebut turut menekan pertumbuhan industri pengolahan secara keseluruhan, meskipun industri nonmigas masih menunjukkan kinerja yang baik.
Industri nonmigas sendiri tumbuh 5,32 persen (yoy) pada Q2-2026 atau lebih tinggi dibandingkan Q1-2026 serta tumbuh 5,23 persen (ctc) pada semester I 2026. Industri pengolahan sendiri menjadi sumber pertumbuhan terbesar terhadap perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026 dengan kontribusi sebesar 0,90 persen. Lapangan usaha itu juga memiliki pangsa terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), yakni 18,50 persen.
BPS mencatat bahwa pertumbuhan industri pengolahan didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri. Secara terinci, industri makanan dan minuman tumbuh 6,51 persen seiring meningkatnya permintaan domestik dan luar negeri, terutama untuk produk ikan olahan, daging ayam, susu dan olahan susu.
Selain itu, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik tumbuh 8,04 persen didorong oleh peningkatan permintaan luar negeri terhadap komponen barang elektronik, baterai dan peralatan listrik.
Sementara itu, industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 4,99 persen, didukung oleh meningkatnya permintaan domestik dan luar negeri terhadap produk bahan kimia.
Dari sisi lapangan usaha, selain industri pengolahan, perdagangan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar berikutnya dengan andil 0,83 persen. Lapangan usaha tersebut tumbuh 6,39 persen (yoy) dan memiliki pangsa 13,02 persen terhadap PDB.
Kemudian, sektor konstruksi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi selanjutnya dengan andil 0,62 persen. Sektor konstruksi tumbuh 6,68 persen (yoy) dan memiliki pangsa 9,79 persen terhadap PDB.
Adapun sektor informasi dan komunikasi (infokom) memberikan andil 0,48 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Lapangan usaha itu tumbuh 6,97 persen (yoy) dengan pangsa 4,30 persen terhadap PDB.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!