Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kawasan Industri Tak Lagi Kompetitif, Investor Mulai Melirik Vietnam

📅 Selasa, 01 Sep 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kawasan Industri Tak Lagi Kompetitif, Investor Mulai Melirik Vietnam Doc: antara
Ket. Iklim Investasi - Dukungan ke Kawasan Industri Lemah, Investor Mulai Lirik Vietnam

Indonesia tak cukup hanya pandai mengundang investor, tetapi juga harus mampu membuat mereka bertahan dan tidak memindahkan modal ke negara pesaing.

JAKARTA — Minimnya insentif setoran energi, ditambah ongkos logistik dan proses perizinan yang belum efisien, membuat Indonesia menghadapi persoalan daya saing yang tak bisa lagi dianggap sepele. Bagi kawasan industri, seperti Karawang International Industrial City (KIIC), biaya dan kepastian berusaha menjadi penentu utama ketika investor global membandingkan Indonesia dengan Vietnam.

Jika persoalan tersebut tidak segera dibenahi, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar, sementara investasi manufaktur bernilai tambah dan penciptaan lapangan kerja justru mengalir ke negara pesaing. Tantangannya bukan sekadar menarik investasi baru, tetapi memastikan iklim usaha Indonesia cukup kompetitif untuk mempertahankan investasi yang sudah ada.

Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menilai persoalan yang dihadapi pelaku industri di KIIC juga menjadi masalah di berbagai kawasan industri Indonesia. “Persoalan tersebut perlu segera dibenahi di tengah kecenderungan sebagian investor mempertimbangkan Vietnam sebagai lokasi investasi agar industri yang sudah berinvestasi di Indonesia tidak pindah ke negara lain,” ujarnya usai Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI Panja RUU tentang Kawasan Industri ke KIIC, Karawang, Jawa Barat pekan lalu dikutip dari laman resmi DPR RI.

Bambang menyoroti ketersediaan dan harga energi, terutama gas dan listrik. Ia mendorong pemberian insentif Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang memadai bagi industri di kawasan industri serta insentif tarif listrik yang lebih rendah dibandingkan industri di luar kawasan. Menurutnya, terdapat sekitar 180 kawasan industri di Indonesia yang membutuhkan dukungan kebijakan energi kompetitif.

Selain energi, biaya transportasi juga menjadi perhatian karena menyumbang sekitar 40 persen biaya logistik. “Pemerintah perlu mengendalikan komponen biaya tersebut agar tidak menggerus daya saing industri,” tegasnya.

Dia menambahkan pelaku industri juga meminta penyederhanaan perizinan melalui sistem satu pintu serta kepastian regulasi. Dia menilai perizinan yang panjang dan aturan yang kerap berubah dapat menghambat investasi serta menyulitkan perencanaan bisnis jangka panjang.

“Karena itu, penyusunan RUU tentang Kawasan Industri diharapkan menjadi momentum untuk memangkas birokrasi dan memperbaiki berbagai hambatan investasi, mulai dari energi, logistik, perizinan hingga kepastian regulasi,” pungkasnya.

Kepastian Perizinan

Pengelola kawasan industri di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, berharap agar pemerintah memberikan kepastian perizinan serta terus meningkatkan kebutuhan dasar pengelolaan kawasan industri. Direktur Kawasan Industri KIIC, Sanny Iskandar, usai menerima kunjungan kerja Komisi VII DPR RI di Karawang, Rabu pekan lalu menyampaikan secara umum investor menginginkan agar daerah tempat berinvestasi aman dan memiliki kepastian hukum.

"Kita dari pengelola kawasan industri ya berharap adanya kepastian hukum, termasuk perizinannya," kata dia.

Dalam hal perizinan diharapkan semuanya dibuat satu pintu. Sehingga prosesnya bisa cepat, tidak seperti sekarang ini yang masing-masing kementerian mempunyai kewenangan. "Jadi kalau bisa ya semuanya (perizinan) dibuat satu pintu agar transparan, tidak masing-masing kementerian mengeluarkan, saling tumpang tindih," katanya.

Selain itu, para investor juga menginginkan adanya kepastian mengenai penyediaan sarana dan prasarana seperti kebutuhan air baku, listrik dan lain-lain. "Kebutuhan dasar seperti air baku, listrik, dan lain-lain itu kebutuhan dasar yang memang harus dipersiapkan oleh pemerintah," katanya.

Saat ini sudah banyak kawasan industri baru di Karawang, sehingga otomatis kebutuhan air baku kian meningkat. Dia juga meminta perhatian atas kebutuhan listrik dengan terus bertambahnya kawasan industri di wilayah Karawang, dan Jawa Barat pada umumnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (1)

Marketing VALTEKINDO
Marketing VALTEKINDO
01 Sep 2026, 13:43 WIB.

Meskipun banyak pabrik di Indonesia kini mulai beralih pada teknologi otomasi kelas dunia untuk menekan biaya produksi, upaya tersebut tidak akan berdampak maksimal jika biaya dasar logistik di kawasan industri tetap memakan porsi hingga 40 persen, sehingga kepastian regulasi serta pemangkasan rantai perizinan menjadi prasyarat mutlak agar ekosistem usaha kita tetap kompetitif di Asia Tenggara.

Balas
Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
Luar Negeri
Kabut Asap Kebakaran Hutan ...

Waduk Wonorejo Alami Penyusutan Air

29 menit yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Waduk Wonorejo Alami Penyus...
Daerah
Semarak Peringatan Hari Mus...
Advertisement
Dikawal Ketat TNI-Polri, 3.510 Napi Risiko Tinggi Resmi Dipindahkan ke Nusakambangan

Dikawal Ketat TNI-Polri, 3.510 Napi Risiko Tinggi Resmi Dipindahkan ke Nusakambangan

12 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.