Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Lamin Guntur Ecolodge: Destinasi Menawan dengan Pasir Putih dan Keunikan Adat Komunal

📅 Senin, 07 Apr 2025, 11:49 WIB | Oleh:

Interaksi dengan masyarakat lokal juga menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman menginap di sini, memberikan kesempatan bagi para wisatawan untuk belajar lebih banyak tentang budaya dan tradisi Kalimantan Timur.

Kehadiran Lamin Guntur Ecolodge bukan hanya memberikan kontribusi bagi perkembangan pariwisata di Kalimantan Timur, tetapi juga menjadi simbol dari visi seorang Ronald Lolang yang ingin mengangkat potensi daerahnya dengan tetap menghargai akar budaya dan kearifan lokal.

Libatkan masyarakat lokal

Buyan, sang manajer yang juga merupakan putra asli suku Dayak Basap, dengan bangga menuturkan filosofi di balik pengelolaan ecolodge ini.

Saat diwawancara, suaranya terdengar lantang dan bersemangat mengisahkan bagaimana keterlibatan masyarakat lokal, khususnya suku Dayak Basap, menjadi nyawa Lamin Guntur.

"Sejak awal pendiriannya, kami memiliki komitmen kuat untuk memberdayakan masyarakat lokal," ungkap Buyan.

Mendiang Ronald, pendiri tempat ini, memiliki kepercayaan yang besar kepada masyarakat Dayak Basap. Mereka menjadi tulang punggung Lamin Guntur sejak awal.

Di Lamin Guntur Ecolodge, campur tangan penduduk setempat terasa dalam setiap aspek operasional. Mulai dari staf manajemen, para helper yang ramah, hingga para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjajakan hasil karya dan kuliner khas, semuanya berpadu menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan.

Langkah ini bukan hanya memberikan lapangan pekerjaan, tetapi juga menumbuhkan roda perekonomian di sekitar kawasan ecolodge.

"Niat awal kami sangat jelas, yaitu melestarikan budaya lokal sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat," tegas Buyan.

Semangat ini tercermin tidak hanya dalam kebijakan pengelolaan sumber daya manusia, tetapi juga dalam setiap aktivitas yang disuguhkan kepada para wisatawan.

Pengalaman menginap di Lamin Guntur Ecolodge bukan sekadar menikmati kenyamanan cottage berarsitektur tradisional. Lebih dari itu, para tamu diajak untuk menyelami kekayaan budaya suku Dayak Basap secara langsung.

Berbagai pertunjukan seni seperti tarian dan alunan musik tradisional seringkali memeriahkan suasana. Wisatawan juga dapat mencoba permainan rakyat yang unik seperti menyumpit dan bermain egrang, merasakan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Malam Suro: Dialektika Ruang Perjumpaan Tradisi, Agama, dan Sejarah

Malam Suro: Dialektika Ruang Perjumpaan Tradisi, Agama, dan Sejarah

16 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.