Lamin Guntur Ecolodge: Destinasi Menawan dengan Pasir Putih dan Keunikan Adat Komunal
📅 Senin, 07 Apr 2025, 11:49 WIB | Oleh: Yebdi TrismarLamin Guntur Ecolodge bukanlah sekadar destinasi wisata. Di balik bangunan-bangunan bergaya cottage yang terbuat dari pohon kelapa dengan ukiran khas suku Dayak yang menghiasi setiap sudutnya, terukir jejak perjalanan hidup seorang figur berpengaruh di Kalimantan Timur, Ronald Lolang.
Sosok sang pendiri itu dikenal ikut berjasa dalam perfilman Indonesia, karena kiprahnya sebagai produser film nasional pada 1970-an hingga 1980-an ini, ternyata memiliki kecintaan yang mendalam terhadap tanah kelahirannya.
Lebih dari sekadar berkarya di dunia perfilman, Ronald Lolang adalah seorang pemikir dan pembangun yang memiliki visi jauh ke depan untuk Kalimantan Timur.
Salah satu wujud nyata dari visinya adalah pengembangan sektor pariwisata di Benua Etam. Pada tahun 2017, dengan semangat untuk memperkenalkan keindahan alam Kaltim kepada khalayak luas, Ronald Lolang mendirikan Lamin Guntur EcoLodge.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, jauh sebelum menjadi destinasi wisata, lamin-lamin yang berdiri menghadap ke birunya laut lepas itu memiliki kisah yang lebih personal dan menyentuh. Rupanya, bangunan-bangunan tersebut awalnya diperuntukkan secara khusus oleh Ronald Lolang bagi istri tercintanya.
Sebuah ungkapan kasih sayang yang diwujudkan dalam bentuk tempat peristirahatan yang nyaman dan dikelilingi keindahan alam yang luar biasa.
Nama Lamin Guntur memiliki akar sejarah dan budaya yang kuat. "Lamin" dalam bahasa Dayak berarti rumah panjang atau bangunan tempat tinggal komunal.
Sementara "Guntur" diambil dari nama seorang tokoh penting dalam sejarah masyarakat setempat, yakni kepala Suku Dayak Basap pertama yang diangkat oleh Raja Sambaliung dan diberi gelar Raja Guntur Moalam.
Pemilihan nama itu bukan hanya sekadar identitas, tetapi juga sebuah bentuk penghormatan terhadap masyarakat adat dan para leluhur yang telah mendiami tanah ini sejak lama.
Memasuki kawasan Lamin Guntur Ecolodge, pengunjung langsung disuguhkan dengan arsitektur yang unik dan menyatu dengan alam. Material utama bangunan yang didominasi oleh kayu kelapa memberikan kesan alami dan hangat.
Sentuhan seni ukir khas Dayak yang menghiasi pilar, dinding, hingga ornamen-ornamen kecil, menambah nilai estetika dan memberikan pemahaman akan kekayaan budaya lokal.
Berdiri di beranda cottage, maka mata dimanjakan dengan hamparan pasir putih, deburan ombak yang menenangkan, dan birunya Laut Sulawesi yang membentang luas hingga ke sejauh mata memandang. Suara angin laut yang berbisik dan semilirnya udara segar menciptakan suasana yang begitu damai dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Pun keberadaan ukiran-ukiran Dayak bukan hanya sebagai dekorasi, tetapi juga sebagai media untuk mengenalkan filosofi dan cerita-cerita luhur dari masyarakat adat setempat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!