Tertinggal Target Emisi, RI Terancam Kehilangan Peluang Investasi Hijau Global
📅 Senin, 15 Jun 2026, 01:20 WIB | Oleh: Tim RedaksiKebutuhan Energi - Pemerintah Diminta Konsisten Siapkan Regulasi Transisi ke Energi Hijau
Jika tidak segera merealisasikan transisi ke energi hijau, Indonesia juga kehilangan momentum menyehatkan fiskal dari tekanan impor energi kotor.
JAKARTA - Pemerintah melalui Badan Komunikasi (Bakom) menyatakan tengah menyiapkan berbagai kebijakan untuk mengurangi kebergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri. Pernyataan itu disampaikan terkait dengan kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh gangguan distribusi seiring dengan konflik di Timur Tengah.
Indonesia saat ini tercatat sebagai net importir minyak dan gas, dengan kebutuhan minyak rata-rata 1,6 hingga 1,7 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya 570 sampai 600 ribu barel per hari, sehingga kebutuhan impor sekitar 1 juta barel per hari.
Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma yang diminta tanggapannya berharap pernyataan pemerintah itu tidak hanya berakhir hanya saat terjadi krisis energi seperti sekarang, karena biaya impor melonjak tetapi harus konsisten merealisasikannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pernyataan mengurangi atau mengakihiri impor tak boleh hanya sekadar komitmen politik semata tetapi harus benar benar diwujudkan dalam kerangka kebijakan atau regulasi yang konsisten,”tegas Surya.
Dia mencontohkan bagaimana regulasi yang sangat menghambat pertumbuhan energi hijau seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), ketika sedang mengalami tren pertumbuhan di pasar global.
Angka investasi PLTS di tingkat global tahun ini sangat besar karena diadopsi banyak negara agar lepas dari kebergantungan impor bahan bakar fosil yang harganya fluktuatif.
Sebaiknya Anda baca juga:
“PLTS adalah sektor paling dinamis dan taktis untuk mengamankan pasokan energi dari krisis geopolitik,”tegas Surya.
Jika rekomendasi ICRES terkait pembenahan tata kelola dan insentif PLTS tidak segera dieksekusi, maka Indonesia tidak hanya tertinggal dalam target emisi, tetapi juga kehilangan peluang menangkap kue investasi hijau global yang sedang meledak tahun ini. “Hal itu berarti kita kehilangan momentum menyehatkan fiskal dari tekanan impor energi kotor,” pungkas Surya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari mendorong percepatan adopsi energi surya, melalui PLTS di sektor industri guna memperkuat daya saing nasional.
Dalam keterangannya akhir pekan lalu, Mada menyampaikan bahwa periode 2026–2028 merupakan momentum penting bagi percepatan adopsi PLTS di sektor industri.
Menurut dia, pemanfaatan energi surya di Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan positif, terutama dari sektor manufaktur yang saat ini menjadi pengguna terbesar PLTS atap nasional.
“Namun jika dibandingkan dengan potensi teknis energi surya Indonesia yang sangat besar, pemanfaatannya masih di bawah satu persen. Artinya, ruang pertumbuhan ke depan masih sangat besar,” kata Mada dalam Green Energy Solutions Forum for Manufacture Owners yang digelar di Bandung, pekan lalu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!