Korut Tegaskan Isu Denuklirisasi Sudah Berakhir
📅 Senin, 15 Jun 2026, 02:05 WIB | Oleh: Berbagai SumberSEOUL - Korea Utara (Korut) pada Minggu (14/6) mengatakan bahwa statusnya sebagai negara senjata nuklir tidak dapat diubah dan hal itu merupakan kunci untuk memastikan stabilitas regional, menolak seruan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya untuk denuklirisasi.
Pyongyang telah berulang kali menegaskan tidak akan meninggalkan persenjataan nuklirnya, menggambarkannya sebagai hal yang penting untuk pencegahan, dengan Kim Yo-jong, saudara perempuan pemimpin Kim Jong-un yang sangat berpengaruh menyebut kebijakan itu sebagai garis pantang mundur pada awal bulan ini.
Pernyataan Korut muncul setelah pertemuan trilateral antara Korea Selatan (Korsel), Jepang dan AS di Tokyo pada hari Jumat (12/6) lalu, di mana sekutu menegaskan kembali komitmen mereka terhadap denuklirisasi menyeluruh di Semenanjung Korea, menurut kementerian luar negeri Seoul.
"Retorika AS dan pasukan bawahannya yang tidak berarti terhadap Korut tidak akan pernah bisa mempengaruhi posisi Korut yang tidak dapat diubah sebagai negara pemilik senjata nuklir," kata juru bicara pejabat Kementerian Luar Negeri Korut bidang urusan antar-Korea yang enggan disebutkan namanya itu dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh kantor berita KCNA pada hari Minggu.
"Denuklirisasi adalah masalah yang berakhir secara permanen. Seruan denuklirisasi sebagai ilusi kosong," imbuh tambah pejabat itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Juru bicara itu juga mengutip penjualan sistem senjata Washington DC ke Seoul dan Tokyo sebagai pembenaran untuk mengejar program nuklir Pyongyang, menggambarkannya sebagai jaminan keamanan yang kuat untuk stabilitas dan perdamaian regional.
"Tidak peduli seberapa keras AS, Jepang, dan Korea Selatan berdalih, mereka tidak akan pernah mengubah posisi Korut saat ini sebagai negara pemilik senjata nuklir," tegas pejabat tersebut.
Pertemuan Koordinasi
Sebaiknya Anda baca juga:
Korut diketahui telah mempercepat program senjata nuklirnya sejak perundingan dengan Washington DC gagal pada tahun 2019, ketika pertemuan puncak antara pemimpin Kim Jong-un dan Presiden AS, Donald Trump, di Hanoi berakhir tanpa kesepakatan.
Kim Jong-un baru-baru ini menjamu Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di Pyongyang, setelah pemimpin Tiongkok itu mengadakan pertemuan puncak berturut-turut di Beijing dengan Presiden Trump dan Presiden Russia, Vladimir Putin.
Tidak ada pihak yang menyebutkan denuklirisasi (dalam pertemuan antara Kim Jong-un dan Xi Jinping), menurut laporan media resmi Korut.
Dalam referensi yang mungkin untuk negosiasi yang gagal, juru bicara itu mengatakan tidak ada yang bisa memulihkan denuklirisasi yang secara permanen terlewatkan dalam tren zaman.
Pernyataan itu muncul setelah Korsel dan AS mengadakan pertemuan keenam Kelompok Konsultatif Nuklir (NCG) di Seoul pada hari Kamis (11/6) lalu.
Dalam pernyataan bersama, sekutu menegaskan kembali tujuan bersama mereka denuklirisasi Korut sambil membahas cara-cara untuk memperkuat pencegahan diperpanjang terhadap ancaman nuklir dan misil Pyongyang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!