Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Malam Suro: Dialektika Ruang Perjumpaan Tradisi, Agama, dan Sejarah

📅 Selasa, 16 Jun 2026, 19:02 WIB | Oleh:
Malam Suro: Dialektika Ruang Perjumpaan Tradisi, Agama, dan Sejarah Doc: ANTARA/Muhammad Mada
Ket. Sejumlah peserta membawa obor saat mengikuti tradisi Lampah Ratri Obor Sewu di Telaga Ngebel, Ponorogo, Jawa Timur, Senin (15/6). Tradisi mengelilingi Telaga Ngebel dengan berjalan kaki dalam keheningan pada malam 1 Suro itu untuk memperingati Tahun Baru Islam.

SURABAYA - Ada malam-malam tertentu yang tidak hanya menandai pergantian tanggal, tetapi juga mengubah cara masyarakat memandang waktu. Di Jawa Timur, malam 1 Suro adalah salah satunya.

Ketika kalender Jawa memasuki tahun baru yang bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah, ruang-ruang publik berubah menjadi panggung budaya yang hidup. Obor dinyalakan, pusaka dijamas, gunungan berisi hasil bumi diarak, wayang dipentaskan, dan ribuan orang berjalan dalam keheningan.

Di Ponorogo, ribuan warga memadati jalur kirab pusaka peninggalan Batarakathong yang menjadi simbol sejarah berdirinya daerah tersebut. Di Telaga Ngebel, masyarakat mengelilingi danau melalui tradisi Lampah Ratri Obor Sewu.

Di Lumajang, warga kaki Gunung Semeru menggelar Grebeg Suro dengan arak-arakan gunungan dan ritual syukur atas melimpahnya sumber air. Sementara di Kediri, kawasan petilasan Sri Aji Jayabaya kembali menjadi pusat kirab budaya dan ziarah yang menarik wisatawan, termasuk dari mancanegara.

Fenomena itu menunjukkan bahwa Suro bukan sekadar penanggalan. Ia adalah ruang perjumpaan antara sejarah, spiritualitas, budaya, dan identitas lokal.

Di tengah kehidupan modern yang bergerak serba cepat, tradisi Suro menghadirkan jeda. Masyarakat diajak menengok kembali akar budaya, sekaligus melakukan refleksi tentang perjalanan hidup dan masa depan. Tidak mengherankan jika berbagai daerah di Jawa Timur masih mempertahankan tradisi tersebut dengan antusiasme tinggi.

Namun, di balik kemeriahan ritual dan keramaian wisata budaya, terdapat pertanyaan yang lebih penting. Apa makna Suro bagi masyarakat masa kini, dan bagaimana tradisi itu dapat terus relevan di tengah perubahan zaman?

Warisan hidup

Suro memiliki posisi istimewa dalam kebudayaan Jawa. Bulan ini sering dipahami sebagai momentum introspeksi, pengendalian diri, serta upaya mendekatkan manusia kepada Sang Pencipta dan alam sekitarnya.

Karena itu, banyak ritual Suro tidak berorientasi pada pesta atau perayaan meriah. Sebaliknya, yang menonjol adalah simbol penyucian, perenungan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Tradisi jamasan pusaka di Ponorogo, misalnya, bukan semata membersihkan benda bersejarah. Prosesi itu menyiratkan pesan tentang merawat nilai-nilai yang diwariskan generasi terdahulu.

Hal serupa tampak pada tradisi Grebeg Suro di Lumajang. Ritual memendam kepala sapi di kawasan mata air bukan sekadar upacara adat, melainkan simbol penghormatan terhadap sumber kehidupan yang menopang masyarakat sekitar Gunung Semeru. Dalam konteks krisis lingkungan yang semakin nyata, pesan itu justru menjadi semakin relevan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui berbagai laporan lingkungan global berulang kali mengingatkan bahwa keberlanjutan sumber daya air menjadi salah satu tantangan terbesar abad ini. Menariknya, masyarakat lokal Jawa telah lama menyimpan kesadaran ekologis tersebut dalam bentuk tradisi.

Di sinilah kekuatan budaya bekerja. Ia tidak menggurui melalui teori panjang, tetapi menanamkan nilai melalui simbol dan praktik yang diwariskan turun-temurun.

Tradisi Suro juga memperlihatkan bagaimana budaya dapat menjadi penggerak ekonomi. Grebeg Suro Ponorogo setiap tahun menarik ribuan pengunjung dan menghidupkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.