Prioritaskan Belanja Negara untuk Produk Dalam Negeri
📅 Kamis, 25 Agu 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
» Pejabat yang masih doyan membelanjakan anggarannya untuk barang impor dinilai bertindak bodoh.
» Belanja pemerintah pada produk impor hilangkan kesempatan pelaku UMKM kembangkan bisnisnya.
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengeluhkan perilaku pejabat di kementerian/lembaga, pemerintah daerah dan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang masih doyan membelanjakan anggaran negara untuk berbagai barang impor, padahal di dalam negeri tersedia barang yang sama.
Saking kesalnya, Presiden menyebut tindakan itu sebagai tindakan bodoh di tengah kondisi perekonomian global saat ini yang diliputi ketidakpastian terutama karena ancaman inflasi dan krisis pangan serta energi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal itu disampaikan Presiden Jokowi saat memberikan pengarahan jajaran pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Presiden dalam kesempatan itu meminta para pengusaha agar memahami kondisi geopolitik global, dan bersama-sama berupaya mendongkrak perekonomian nasional.
Menurut Kepala Negara, kondisi ekonomi global semakin ruwet karena krisis yang bertubi-tubi mulai dari kesehatan, pangan, energi, dan krisis keuangan. Bahkan, lembaga dunia memprediksi akan ada 66 negara yang tumbang, dan satu per satu mulai terbukti.
Menanggapi kritikan Presiden ke bawahannya, Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi, mengatakan kecaman Jokowi itu karena negara sedang menggenjot pemulihan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak Covid-19.
Sebaiknya Anda baca juga:
Belanja negara yang sudah terealisasi sebesar 1.031,24 triliun rupiah seharusnya diprioritaskan untuk belanja produk dalam negeri, sehingga pertumbuhan ekonomi lebih merata. Dengan demikian, tagline mencintai dan bangga menggunakan produk lokal tidak sebatas slogan yang setiap saat disampaikan ke publik.
"Presiden bisa mengambil terobosan kebijakan dengan memberikan reward kepada K/L, non-K/L maupun pemda yang memprioritaskan belanjanya untuk produk dalam negeri/ lokal dan sebaliknya memberi punishment kepada K/L maupun pemda yang jor-joran belanja produk impor," kata Badiul.
Presiden juga bisa menjadikan belanja produk lokal sebagai indikator penilaian kinerja K/L, non-K/L maupun pemerintah. Dengan demikian, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal bisa berjalan maksimal.
Pemerintah juga perlu memperkuat posisi 64 juta UMKM selain soal pendanaan, produksi, kualitas produk, dan pemasarannya. Pemerintah juga perlu mempermudah proses UMKM masuk dalam proses pengadaan barang dan jasa melalui pengawasan yang baik.
Dengan realisasi belanja negara yang sudah mencapai seribu triliun rupiah kalau 70-90 persen di antaranya dibelanjakan untuk produk dalam negeri maka tentu situasi ekonomi Indonesia akan semakin membaik.
Kesempatan Kerja Hilang
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!