Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer

📅 Senin, 31 Agu 2026, 17:28 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer Doc: istimewa
Ket. Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief dalam Rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Agustus 2026 di Jakarta, Senin (31/8)

JAKARTA-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Agustus 2026 sebesar 52,30. Nilai tersebut menunjukkan aktivitas industri pengolahan nasional masih berada dalam fase ekspansi, meskipun mengalami perlambatan sebesar 0,80 poin dibandingkan Juli 2026 yang berada pada level 53,10.

Capaian ini sejalan dengan daya tahan kinerja industri pengolahan nonmigas yang pada Triwulan – II 2026 tumbuh sebesar 5,32 persen (y-o-y), lebih tinggi dari Triwulan – I 2026 sebesar 5,14 persen, serta berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

“Kami melihat fenomena industri masih menunggu perubahan yang terjadi pada pasar domestik maupun pasar ekspor (wait and see). Meski ada sedikit penurunan pada variabel permintaan, namun industri masih tetap memproduksi karena memandang perkenomian indonesia maupun global akan membaik,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief dalam Rilis IKI bulan Agustus 2026 di Jakarta, Senin (31/8).

Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 22 subsektor berada dalam fase ekspansi, sementara satu subsektor mengalami kontraksi. Subsektor yang berada dalam fase ekspansi tersebut memiliki kontribusi sebesar 98,6 persen terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas pada Triwulan – II 2026.

“Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi pada Agustus 2026 adalah Industri Minuman serta Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia. Adapun subsektor yang mengalami kontraksi yaitu Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki,” papar Febri.

Dari komponen pembentuk IKI, produksi masih menjadi variabel dengan indeks tertinggi. Indeks produksi pada Agustus 2026 tercatat 55,10 atau meningkat 0,55 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Capaian tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak Juni 2026. Sementara itu, indeks pesanan berada pada level 53,13 atau masih dalam fase ekspansi, meskipun turun 0,67 poin dari Juli 2026.

Adapun indeks persediaan produk tercatat 46,02 atau berada dalam fase kontraksi dan turun 3,16 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi tersebut telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut dan menempatkan indeks persediaan pada level terendah sejak Januari 2024.

Berdasarkan orientasi pasar, IKI yang berorientasi ekspor pada Agustus 2026 berada pada level 53,09, atau melambat 0,86 poin dibandingkan Juli 2026 sebesar 53,95. Pada IKI berorientasi pasar domestik tercatat 51,13, juga melambat 0,86 poin dari 51,99 pada bulan sebelumnya.

“Perlambatan keduanya memperlihatkan bahwa pelaku industri menghadapi kondisi permintaan yang lebih selektif. Karena itu, keberlanjutan aktivitas manufaktur akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan industri menjaga pasar, efisiensi produksi, serta memastikan kelancaran pasokan bahan baku dan distribusi,” tutur Febri.

Di sisi lain, sejumlah subsektor mencatat peningkatan yang melesat pada Agustus 2026. Industri Minuman berada pada posisi tertinggi dengan seluruh variabel pembentuknya berada dalam fase ekspansi, terutama peningkatan pesanan dari pasar domestik. Subsektor Industri Makanan berada pada level ekspansi tertinggi dalam lebih dari dua tahun.

Hal ini berkaitan dengan tingginya indeks harga minyak nabati yang membuat perusahaan meningkatkan produksinya. Namun, persediaan produk masih mengalami kontraksi karena tingkat produksi yang relatif tinggi belum sepenuhnya terserap pasar.

Di sisi lain, Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki menjadi subsektor yang mengalami kontraksi pada Agustus 2026 dan telah berlangsung selama empat bulan berturut-turut. Kontraksi terutama terjadi pada industri yang berorientasi pasar domestik.

“Kita harapkan akan segera ekspansi dengan melihat beberapa peluang seperti momentum lebaran dan ratifikasi IEU-CEPA. Kami melihat potensi ekspor ke Uni Eropa ini sangat besar, khususnya industri kulit dan alas kaki, maka kita harus memanfaatkan perjanjian ini secara optimal,” kata Sekretariat Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil, Sri Bimo Pratomo.

Meskipun komponen produksi masih berada dalam fase ekspansi, komponen pesanan dan persediaan produk mengalami kontraksi yang disebabkan tingginya biaya pengiriman, keterbatasan kapasitas kapal yang memengaruhi distribusi, perubahan preferensi konsumen terhadap produk yang lebih awet, serta adanya perusahaan yang sudah tidak berproduksi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
kai-expo-detail-sidebar
Nasional
Menham Luncurkan Kajian Hum...
Advertisement
jjroyal-luwak
Advertisement
Badan Geologi Sebut Erupsi Sinabung Berpotensi Diikuti Letusan yang Lebih Besar

Badan Geologi Sebut Erupsi Sinabung Berpotensi Diikuti Letusan yang Lebih Besar

31 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.