Rupiah Hari Ini Kembali Kehilangan Tenaga, Geopolitik Bergejolak
📅 Senin, 31 Agu 2026, 17:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Hasrul Said
JAKARTA – Pelemahan rupiah kembali menunjukkan tingginya sensitivitas pasar domestik terhadap risiko geopolitik global.
Memanasnya hubungan AS dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi, terutama jika ketegangan berimbas pada Selat Hormuz, sehingga mendorong investor mencari aset yang lebih aman dan memperkuat permintaan dolar AS.
Kondisi ini membuat rupiah berada di bawah tekanan, sementara kenaikan harga minyak berpotensi menambah beban melalui peningkatan biaya impor dan tekanan inflasi.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan, Senin (31/8), bergerak melemah 29 poin atau 0,16 persen menjadi Rp17.722 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.693 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi memanasnya hubungan antara AS dengan Iran
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pasukan AS menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran, yang terletak di Selat Hormuz, pada Minggu (30/8/2026). Ini merupakan serangan pertama yang diketahui dilakukan oleh pihak Amerika terhadap negara Teluk tersebut sejak akhir Juli. Sebagai tanggapan, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, demikian dilaporkan media Iran pada hari Senin dengan mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran," ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Negosiasi untuk mengakhiri konflik disebut sedang menemui jalan buntu, sementara para mediator berupaya membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah pada akhir Februari 2026.
Sentimen lainnya berasal dari pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole.
Warsh menekankan bahwa fokus utama bank sentral saat ini yaitu stabilitas harga, yang mendorong pasar untuk meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed di bulan September, karena masih ada pekerjaan rumah untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
"Ketua Fed tersebut juga mengatakan bahwa sulit untuk menyebut kondisi keuangan saat ini sebagai kondisi yang restriktif, sembari mencatat bahwa pasar kredit dan pinjaman hanya menunjukkan sedikit tanda adanya pengetatan kebijakan moneter," kata Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.746 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.703 per dolar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!