Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

HKI: Investor RI Nggak Kurang, yang Kurang Kepastian! Ini Tuntutan ke Pemerintah

📅 Senin, 03 Agu 2026, 06:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
HKI: Investor RI Nggak Kurang, yang Kurang Kepastian! Ini Tuntutan ke Pemerintah Doc: istimewa
Ket. ki-ka-Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bersama Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana di sela sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XXV Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) yang diselenggarakan di Jakarta pada 30–31 Juli 2026 lalu

JAKARTA – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XXV Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) yang diselenggarakan di Jakarta pada 30–31 Juli 2026 menghasilkan serangkaian rekomendasi strategis untuk mempercepat realisasi investasi nasional. 

Berangkat dari pengalaman para pengelola kawasan industri di seluruh Indonesia, Rakernas menyimpulkan bahwa tantangan terbesar investasi Indonesia saat ini bukan lagi menarik minat investor, melainkan memastikan investasi yang telah berkomitmen benar-benar terwujud dalam pembangunan pabrik, kegiatan produksi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, serta penguatan struktur industri nasional.

Sebagai tindak lanjut atas hasil Rakernas tersebut, HKI telah menyampaikan surat kepada Presiden Prabowo Subianto untuk memohon kesempatan memaparkan secara langsung berbagai rekomendasi yang telah dirumuskan. HKI meyakini bahwa pengalaman praktis para pengelola kawasan industri yang setiap hari berinteraksi dengan investor dapat menjadi masukan yang implementatif untuk mempercepat industrialisasi nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan investasi global yang semakin kompetitif.

Rakernas XXV HKI menjadi forum konsolidasi nasional yang menghimpun berbagai pengalaman, tantangan, dan praktik terbaik dari para pengelola kawasan industri di berbagai wilayah di Indonesia. Forum ini tidak disusun untuk menghimpun keluhan, melainkan mengidentifikasi bottleneck investasi yang masih berulang di lapangan serta merumuskan solusi yang dapat segera diimplementasikan oleh pemerintah bersama dunia usaha.

Seiring perkembangan industri nasional, karakter anggota HKI juga mengalami transformasi yang signifikan. Pengelola kawasan industri saat ini tidak lagi hanya berperan sebagai pengembang kawasan, tetapi juga telah berkembang menjadi pelaku industri yang membangun, memiliki, dan mengoperasikan berbagai kegiatan usaha di dalam kawasan yang mereka kelola. 

Dengan posisi tersebut, HKI memahami secara langsung seluruh siklus investasi, mulai dari penyediaan lahan dan infrastruktur, proses perizinan, pembangunan fasilitas produksi, hingga tantangan operasional industri setelah pabrik beroperasi. Perspektif ganda inilah yang menjadi landasan utama rekomendasi HKI kepada pemerintah.

Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, mengatakan Indonesia sesungguhnya memiliki hampir seluruh modal untuk menjadi salah satu tujuan investasi paling kompetitif di kawasan Asia. Pasar domestik yang besar, bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, posisi strategis dalam rantai pasok global, serta komitmen pemerintah terhadap agenda hilirisasi merupakan kekuatan yang sangat besar. Namun, seluruh keunggulan tersebut hanya akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi apabila ditopang oleh kepastian regulasi, kecepatan pelayanan, dan kemampuan untuk secara konsisten mengatasi berbagai hambatan investasi.

“Indonesia tidak kekurangan investor. Kami melihat langsung bagaimana investor datang, memilih lokasi, memulai proses investasi, bahkan banyak di antaranya menjadi bagian dari ekosistem industri yang tumbuh di kawasan-kawasan yang kami kelola. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana minat investasi itu dapat segera berubah menjadi pembangunan pabrik, kegiatan produksi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja. Karena itu, kami berharap dapat menyampaikan langsung kepada Presiden berbagai rekomendasi yang lahir dari pengalaman nyata para pengelola kawasan industri di seluruh Indonesia,” ujar Akhmad Ma’ruf.

Menurut Ma’ruf, pola pengambilan keputusan investor global telah mengalami perubahan yang sangat cepat. Investor tidak lagi hanya membandingkan ukuran pasar atau melimpahnya sumber daya alam suatu negara. Mereka juga menilai kecepatan memperoleh kepastian berusaha, kesiapan lahan, keandalan pasokan listrik dan gas, kualitas infrastruktur logistik, konsistensi regulasi, serta kemampuan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ketika investasi mulai berjalan.

“Investor tidak melihat persoalan berdasarkan kewenangan masing-masing kementerian atau lembaga. Investor melihat Indonesia sebagai tujuan investasi. Karena itu, penyelesaiannya juga harus dilakukan secara terpadu sebagai satu sistem yang memberikan kepastian, kecepatan, dan konsistensi,” katanya.

HKI menilai pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Indonesia Incorporated yang menjadi salah satu arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Dalam perspektif dunia usaha, Indonesia Incorporated bukan sekadar memperkuat koordinasi antarkementerian, tetapi juga memastikan seluruh institusi pemerintah bekerja sebagai satu kesatuan yang mampu memberikan kepastian kepada investor sejak tahap perencanaan hingga proyek memasuki masa produksi.

Bagi investor, keberhasilan suatu negara tidak diukur dari banyaknya institusi yang terlibat dalam proses perizinan, melainkan dari seberapa cepat sebuah proyek dapat dibangun dan mulai beroperasi. Investor tidak membedakan apakah hambatan berasal dari persoalan tata ruang, lingkungan hidup, energi, pertanahan, atau infrastruktur. Yang mereka lihat adalah apakah Indonesia mampu memberikan kepastian bahwa investasi dapat direalisasikan dengan cepat, konsisten, dan dapat diprediksi.

Rakernas XXV HKI dibuka oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita serta dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Kehadiran para pengambil kebijakan tersebut menegaskan bahwa pengembangan kawasan industri merupakan agenda strategis nasional yang memerlukan sinergi lintas sektor.

Dalam arahannya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa kawasan industri harus menjadi motor transformasi industri nasional melalui percepatan hilirisasi, peningkatan nilai tambah, penguatan daya saing, serta penciptaan lapangan kerja. HKI menilai arah kebijakan tersebut sudah tepat. Tantangan berikutnya adalah memastikan implementasinya berlangsung lebih cepat melalui penyelesaian berbagai bottleneck yang selama ini masih menghambat daya saing investasi Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Kejuaraan Taekwondo Asia 2026 Digelar di Jakarta, Jadi Ajang Perebutan Poin Olimpiade Los Angeles 2028.

Kejuaraan Taekwondo Asia 2026 Digelar di Jakarta, Jadi Ajang Perebutan Poin Olimpiade Los Angeles 2028.

03 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.