Swasembada Belum Aman, Pakar IPB Ingatkan Ancaman El Nino pada Produksi Pangan
📅 Jumat, 14 Agu 2026, 21:50 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Mitigasi dampak El Nino terhadap sektor pangan perlu diarahkan pada langkah antisipatif, bukan sekadar penanganan setelah kekeringan terjadi.
Percepatan waktu tanam, optimalisasi irigasi dan sumber air, penggunaan varietas berumur genjah, serta pemanfaatan informasi iklim menjadi kunci menjaga produktivitas.
Strategi ini penting karena El Nino berpotensi memicu defisit air, menekan produktivitas, hingga meningkatkan risiko puso.
Karena itu, kecepatan respons pemerintah dan petani akan sangat menentukan stabilitas produksi sekaligus harga pangan.
Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengingatkan pentingnya mitigasi dampak dari fenomena El Nino terhadap kinerja sektor pangan nasional pada paruh kedua 2026.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengatakan hal ini menyusul laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprakirakan fenomena El Nino pada Agustus hingga Oktober sangat kuat.
“Ada potensi terjadi penurunan produksi di beberapa komoditas (pangan),” kata Andreas dalam diskusi daring Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia di Jakarta, Jumat (14/8).
Meskipun Presiden Prabowo Subianto mengatakan dalam kurun satu tahun ini, Indonesia telah mampu mencapai swasembada delapan komoditas pangan, Andreas mengatakan terdapat beberapa komoditas yang harus diwaspadai terdampak El Nino seperti beras dan jagung.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kita berhadapan dengan situasi yang kurang menguntungkan, yaitu fenomena El Nino, sedangkan tahun 2025 kemarin kita memang diberkahi fenomena iklim yang menguntungkan untuk pertanian yang kita sebut sebagai La Nina, sehingga kita bisa menanam sepanjang tahun,” jelas dia.
Adapun padi dan jagung diprediksi akan mengalami penurunan produksi karena pengaruh cuaca panas ekstrem.
“Menurut saya terjadi penurunan produksi kira-kira ya ini sekitar 3-5 persen untuk padi. Selain itu, jagung kemungkinan juga akan menurun, karena jagung juga perlu air,” kata Andreas.
“Biasanya petani itu tanam jagung pada musim kedua setelah padi. Tapi kalau airnya tidak mencukupi, sudah tentu mereka akan mencari tanaman lain yang berumur lebih pendek, yang tidak perlu air dalam jumlah banyak,” ujar pria yang juga Research Associate CORE Indonesia itu menambahkan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan dalam kurun satu tahun ini, Indonesia telah mampu mencapai swasembada delapan komoditas pangan, yakni beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam dan bawang merah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
"Dalam satu tahun terakhir, Indonesia mencapai swasembada 8 komoditas pangan," kata Prabowo dalam pidatonya di hadapan Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPD RI dan DPR RI Tahun 2026 di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!