Kapitalisasi Nilai Ekonomi Jangka Pendek Lahan Gambut Merugikan Indonesia
📅 Rabu, 30 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiYOGYAKARTA - Pemanfaatan lahan gambut yang mengejar nilai ekonomi jangka pendek akan menimbulkan kerugian lingkungan dan ekonomi yang jauh lebih besar bagi Indonesia. Pengelolaan gambut, terutama melalui pengeringan dan pembangunan kanal untuk kepentingan budidaya, perlu diubah dengan menempatkan keseimbangan ekosistem sebagai dasar pemanfaatannya.
Pakar gambut Universitas Gadjah Mada (UGM), Azwar Maas mengatakan kebakaran gambut tidak bisa terus-menerus dihadapi hanya dengan menambah personel dan sarana pemadaman. Sebab, persoalan mendasarnya adalah perubahan ekosistem gambut akibat aktivitas manusia.
“Harus ada solusi buat masa depan. Mau menambah berapa manusia untuk memadamkan api? Tidak bisa dengan manusia, terbatas. Kita ini bagian dari alam, tidak mungkin menguasai alam,” kata Profesor Azwar, Senin (29/9).
Azwar menjelaskan gambut memiliki karakter berbeda dengan tanah mineral. Gambut yang kehilangan kandungan air sangat rentan terbakar, sementara api dapat merambat bukan hanya di permukaan, tetapi juga masuk ke lapisan gambut di bawah tanah.
Dalam kajiannya, Azwar mencatat ruang pori gambut dapat mencapai lebih dari 80 persen. Ketika tidak jenuh air, pori tersebut terisi udara sehingga gambut semakin rentan terhadap kekeringan. Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut jauh lebih sulit dipadamkan karena api dapat menyebar ke samping maupun ke bawah permukaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Azwar, pembangunan kanal menjadi salah satu persoalan penting karena dapat mengubah tata air alami gambut. Anggapan bahwa kanal dapat menjadi tempat penyimpanan air, menurut dia, harus dilihat secara hati-hati karena kanalisasi pada kubah gambut justru dapat mempercepat keluarnya air dari kawasan tersebut.
“Gambut kita bikin kanal. Kalau dibuat kanal, bagaimana bisa isi? Air di gambut itu tercipta ratusan tahun, bagaimana bisa mengisinya. Selain disalurkan, air juga habis diserap oleh sawit,” kata Azwar.
Karena itu, pengembangan kelapa sawit tidak semestinya dilakukan pada gambut dalam. Azwar mengatakan budidaya sawit masih dapat dilakukan pada gambut dangkal dengan kedalaman tidak lebih dari satu meter. Sementara gambut yang lebih dalam seharusnya dipertahankan dengan vegetasi asli yang sesuai dengan karakter ekosistem basah.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Lebih dari satu meter tidak boleh. Harus tanaman keras asli daerah yang menjadi ekosistem gambut. Harus hidup dalam genangan air, tanaman keras yang hidup dalam air,” katanya.
Pemadaman Bukan Jawaban
Azwar mengatakan besarnya kebutuhan air menunjukkan keterbatasan pendekatan pemadaman setelah kebakaran terjadi. Dalam kajiannya, untuk memadamkan kebakaran gambut seluas satu hektare diperkirakan diperlukan sekitar 300-600 ton air. Kondisi tersebut akan sulit ditangani apabila di sekitar lokasi tidak tersedia sumber air seperti sungai atau embung.
Oleh karena itu, strategi pengelolaan gambut harus bergeser dari penanggulangan kebakaran menuju pemulihan fungsi ekologis. Salah satunya dengan mengembalikan gambut sebagai penyimpan air, mengendalikan muka air tanah, serta menggunakan tanaman yang toleran terhadap kondisi lembap dan basah.
Pemerintah jelasnya harus menjadi penggerak utama perubahan tersebut karena transformasi pengelolaan gambut tidak mungkin dibebankan kepada masyarakat semata.
“Harus dimulai tahun ini, dan yang bisa memulai hanya pemerintah, tidak mungkin rakyat,” kata Azwar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!