Jet Penumpang C919 Tiongkok Tembus Penerbangan Internasional, Ambisi Goyang Dominasi Boeing-Airbus
📅 Kamis, 13 Agu 2026, 00:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S“Ada alasan mengapa pada dasarnya hanya ada dua produsen pesawat komersial utama di dunia. Membangun jet penumpang besar yang aman dan andal jauh lebih sulit daripada membuat kendaraan listrik.”
Tantangan lainnya adalah kapasitas produksi. Tahun lalu, Comac dilaporkan hanya menyerahkan 15 unit C919 kepada pelanggan, jauh di bawah target perusahaan yang mencapai 75 pesawat.
Dari sisi pasar internasional, langkah Comac juga masih terbatas. C919 belum memperoleh sertifikasi dari regulator penerbangan Eropa maupun Amerika Serikat, sehingga ruang ekspansinya ke pasar global masih jauh lebih sempit dibandingkan Boeing dan Airbus.
Bahkan ketika Tiongkok telah mengembangkan industri otomotif listrik dengan sangat agresif, sektor penerbangan tetap menjadi medan yang jauh lebih sulit untuk ditembus.
Ambisi tersebut juga memiliki dimensi strategis. Beijing memandang kemampuan memproduksi pesawat komersial sendiri bukan sekadar persoalan bisnis, tetapi bagian dari kemandirian teknologi dan keamanan nasional.
Zhang Yanzhong, akademisi dari Chinese Academy of Engineering yang terlibat dalam pengembangan C919, memperingatkan bahwa ketergantungan terhadap teknologi asing untuk pesawat besar dapat menjadi persoalan strategis.
Namun Zhang juga mengakui bahwa perjalanan menuju keberhasilan komersial masih panjang.
Persoalan ketergantungan asing bahkan tidak hanya menyangkut mesin atau komponen tertentu. Perusahaan-perusahaan internasional juga berperan dalam membantu mengintegrasikan berbagai perangkat keras dan perangkat lunak kompleks agar dapat berfungsi sebagai sebuah pesawat komersial yang aman.
Di tengah persaingan teknologi dengan Amerika Serikat, kondisi ini menjadi semakin sensitif. Pembatasan ekspor teknologi dan komponen antara Washington dan Beijing sebelumnya bahkan sempat berdampak terhadap rantai pasok yang dibutuhkan Comac.
Pada akhirnya, penerbangan C919 ke Ulaanbaatar mungkin belum akan mengubah peta industri penerbangan dunia dalam waktu dekat.
Namun, penerbangan tersebut menunjukkan satu hal penting: China mulai membawa proyek pesawat komersialnya keluar dari pasar domestik.
Tantangannya sekarang bukan sekadar membuat C919 bisa terbang, tetapi membuat maskapai asing bersedia membelinya, regulator dunia mempercayainya, penumpang merasa aman menggunakannya, dan Comac mampu memproduksinya dalam jumlah besar.
Kennedy bahkan menilai Comac masih membutuhkan waktu sangat panjang untuk benar-benar menjadi pesaing serius Boeing dan Airbus.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!