Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Masalah Karhutla Bukan Api, Tetapi Air

📅 Selasa, 08 Sep 2026, 03:10 WIB | Oleh:
Masalah Karhutla Bukan Api, Tetapi Air Doc: istimewa
Ket. Pakar Gambut, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada - Prof. Dr. Azwar Maas

Oleh: Prof. Dr. Azwar Maas

Puluhan helikopter dan pesawat dikerahkan untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari udara, ribuan liter air dijatuhkan ke titik-titik api. Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan untuk memancing hujan. Semua upaya itu tentu diperlukan ketika kebakaran sudah terjadi.

 Namun, khusus untuk lahan gambut, ada pertanyaan yang seharusnya kita ajukan: mengapa kita baru sibuk mencari air setelah gambut terbakar? Memadamkan kebakaran gambut membutuhkan air dalam jumlah luar biasa besar.

Berdasarkan perhitungan yang pernah saya lakukan, untuk memadamkan satu hektare gambut yang terbakar diperlukan sedikitnya sekitar 200–250 meter kubik air. Sementara kemampuan angkut helikopter untuk water bombing terbatas. Jika kapasitasnya sekitar dua meter kubik, dapat dibayangkan berapa kali penerbangan diperlukan untuk menangani satu hektare saja.

Dalam perhitungan lain yang pernah saya tuliskan, kebutuhan air bahkan dapat mencapai 300–600 ton untuk setiap hektare gambut yang terbakar, tergantung biomassa di permukaan dan sifat fisik gambut. Sebagian air akan langsung menguap akibat panas, sedangkan sebagian lainnya diperlukan untuk memadamkan bara dan membasahi gambut hingga ke bawah permukaan. Untuk areal 10 x 10 meter saja dibutuhkan sekitar 3–6 ton air.

 Kalau kebakaran sudah mencapai ratusan atau ribuan hektare, persoalannya menjadi sangat besar. Pada musim kemarau, air di daratan juga semakin sulit diperoleh. Modifikasi cuaca pun bukan sesuatu yang dapat dilakukan kapan saja karena membutuhkan keberadaan awan yang memungkinkan untuk disemai. Tanpa awan, berharap menghasilkan hujan buatan tentu sangat sulit. Karena itu, water bombing bukan tindakan yang salah.

 Dalam kondisi darurat, pemadaman tetap harus dilakukan. Namun, kita keliru apabila keberhasilan pengendalian karhutla hanya dilihat dari seberapa banyak helikopter diterbangkan, berapa banyak air dijatuhkan, atau berapa titik api berhasil dipadamkan. Masalah karhutla gambut sesungguhnya bukan terutama bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana mempertahankan air agar tetap berada di gambut sebelum api muncul.

Jangan Biarkan Gambut Kehilangan Air

Gambut dalam keadaan alaminya merupakan ekosistem basah. Selama gambut mampu menyerap dan mempertahankan air hingga mendekati permukaan, ia mempunyai kondisi yang jauh lebih aman terhadap kebakaran.

Persoalan muncul ketika kondisi hidrologis tersebut berubah dan permukaan gambut menjadi kering. Salah satu persoalan yang sering luput diperhatikan adalah kondisi permukaan gambut setelah lahan dibuka.

Ketika permukaan tidak lagi memiliki penutup, air yang bergerak dari bawah menuju bagian atas akan lebih mudah menguap. Gambut yang tadinya bersifat hidrofilik atau menyukai air kemudian dapat berubah menjadi kering dan hidrofobik. Dalam kondisi seperti itulah gambut menjadi sangat mudah dibakar.

Karena itu, saya berkali-kali mengusulkan pentingnya cover crop. Permukaan gambut jangan dibiarkan terbuka. Tanaman perdu, rumput, paku-pakuan, maupun vegetasi lain dapat membantu menjaga kondisi permukaan sehingga kehilangan air dapat ditekan. Kuncinya sederhana: jangan sampai gambut di permukaan menjadi kering. Persoalan tata air juga perlu diperhatikan secara lebih serius.

Selama ini terdapat ketentuan mengenai muka air tanah gambut pada titik penaatan. Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan air pada saluran belum tentu menjamin bagian permukaan gambut yang berjarak puluhan meter dari saluran tetap basah. Saya pernah melihat kawasan HTI yang baru ditebang, air di salurannya masih sekitar 30 sentimeter, tetapi permukaan gambut pada jarak 50 sampai 100 meter sudah mengering karena terbuka.

Ini penting terutama bagi konsesi yang melakukan pemanenan. Setelah tanaman dipanen, jangan sampai gambut dibiarkan terbuka pada musim kemarau, terlebih dalam periode kering. Tata waktu panen, tutupan permukaan dan tata air harus menjadi bagian dari strategi pencegahan kebakaran, bukan baru menjadi perhatian setelah muncul hotspot.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Advertisement
FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

28 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.