Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony Serukan Kedamaian di Tengah Disrupsi AI

📅 Selasa, 08 Sep 2026, 17:55 WIB | Oleh:
Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony Serukan Kedamaian di Tengah Disrupsi AI Doc: Istimewa
Ket. Tampilan udara suasana Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony 2026 yang digelar di Sunset Mandala, Sira Village, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali. Rangkaian acara Bali Harmony Encounter Week 2026 menyerukan kedamaian dalam diri, antarsesama, dan seluruh kehidupan di tengah disrupsi AI.

BALI – Rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 mencapai puncaknya melalui Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony 2026 yang digelar di Sunset Mandala, Sira Village, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.

Mengangkat tema “Holding Space for Peace: Peace Within, Peace Among Us, Peace with All Life”, upacara tersebut menjadi ruang refleksi bagi para pemimpin, delegasi muda, tokoh spiritual, akademisi, dan perwakilan masyarakat dari berbagai negara untuk membicarakan kembali makna kedamaian di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat dan meningkatnya fragmentasi global.

Bali Harmony Encounter Week 2026 berlangsung pada 2–7 September 2026 dan melibatkan delegasi dari lebih dari 70 negara. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah, sektor teknologi, akademisi, masyarakat sipil, hingga komunitas lokal.

Pertemuan tersebut menempatkan isu kecerdasan buatan (AI), martabat manusia, pendidikan, kepemimpinan, dan masa depan berkelanjutan sebagai bagian dari pembahasan. Di tengah agenda yang sarat dengan diskusi teknologi dan kebijakan, Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony menjadi ruang untuk mengambil jeda dan melihat kembali dimensi kemanusiaan dari perubahan tersebut.

Kedamaian sebagai Praktik Sehari-Hari

Wakil Presiden United In Diversity Foundation Suyoto mengatakan, kedamaian tidak semestinya dipahami hanya sebagai kondisi ideal yang hendak dicapai, melainkan hubungan yang perlu dipelihara secara terus-menerus.

“Kedamaian bukanlah sekadar tujuan akhir yang dicapai melalui teori, melainkan sebuah hubungan yang harus kita rawat secara aktif setiap hari,” ujar Suyoto.

Menurut dia, Indonesia memiliki pengalaman penting dalam membangun kehidupan sosial yang beragam. Ia menyinggung peningkatan Indeks Kemajuan Manusia serta kerukunan umat beragama sebagai bagian dari perkembangan yang perlu terus diperkuat.

Melalui Tri Hita Karana Universal Reflection Forum, Yayasan United In Diversity (UID) berupaya membawa semangat Tri Hita Karana ke dalam percakapan global.

Konsep Tri Hita Karana yang berasal dari filosofi Bali menekankan pentingnya keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam atau kehidupan secara keseluruhan. Dalam forum tersebut, prinsip itu diterjemahkan ke dalam seruan mengenai tiga dimensi kedamaian: kedamaian dalam diri, kedamaian antarsesama, dan kedamaian dengan seluruh kehidupan.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika perkembangan teknologi, termasuk AI, membawa perubahan terhadap cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.

AI dan Masa Depan yang Berpusat pada Manusia

Sebelum upacara refleksi, Bali Harmony Dialogue digelar pada 3 September 2026 di United In Diversity (UID) Bali Campus, KEK Kura Kura Bali.

Dialog tersebut menjadi bagian awal dari rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 sekaligus pembuka menuju inisiatif AI World Congress Bali. Forum mempertemukan para pemangku kepentingan dari tiga sektor (tri-sector), yakni pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil.

Salah satu agenda utama adalah kuliah umum bertajuk “Intelligence: Natural and Artificial” yang menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie.

Dalam paparannya, Stella membahas posisi negara berkembang dalam perkembangan AI global. Menurut materi penyelenggara, pembahasan tersebut menekankan perlunya negara berkembang bergerak dari posisi sebagai konsumen teknologi menuju peran yang lebih aktif sebagai pengembang, peneliti, sekaligus pihak yang ikut membentuk tata kelola AI global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Pelatih PSS: Banyak Sekali yang Harus Dibenahi

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pelatih PSS: Banyak Sekali ...
Olahraga
Marc Marquez Juara Sprint M...
Olahraga
Sinner Mundur dari Shanghai...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.