Harga BBM Melonjak, Warga AS Tanggung Kerugian Energi hingga 100 Miliar Dollar AS Imbas Perang Iran
📅 Selasa, 08 Sep 2026, 20:40 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Xinhua.
NEW YORK CITY, AS - Perang Iran menyebabkan konsumen Amerika Serikat (AS) menanggung tambahan biaya energi yang diperkirakan mencapai 100 miliar dollar AS (1 dollar AS = Rp17.653) dan angka tersebut meningkat sekitar 1 juta dollar AS setiap dua menit, menurut perkiraan waktu nyata (real-time) dari Universitas Brown pada Senin (7/9).
Pelacak Biaya Energi Akibat Perang Iran (Iran War Energy Cost Tracker) dari Watson School di Universitas Brown menyebutkan bahwa kenaikan harga bensin dan solar telah membuat rata-rata rumah tangga di AS mengeluarkan lebih dari 760 dollar AS sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Menurut Asosiasi Otomotif Amerika (American Automobile Association), harga solar rata-rata secara nasional di AS naik menjadi rekor 5,90 dolar AS per galon pada Senin, melampaui rekor sebelumnya sebesar 5,85 dolar AS yang tercatat pada Jumat (4/9).
Texas menanggung porsi terbesar dari kenaikan biaya tersebut, dengan konsumen membayar sekitar 11 miliar dollar AS sebagai tambahan biaya bensin dan solar sejak perang dimulai. Texas diikuti California dan Florida, masing-masing sekitar 8 miliar dollar AS dan 5 miliar dollar AS.
Menurut pelacak tersebut, konsumen AS memperkirakan periode harga bahan bakar yang lebih tinggi akan berlangsung lebih lama daripada yang mereka perkirakan ketika perang dimulai.
Kenaikan biaya itu menyebabkan meningkatnya biaya transportasi untuk berbagai barang kebutuhan sehari-hari. Sejumlah perusahaan bahkan membebankan biaya itu kepada konsumen dalam bentuk biaya tambahan.
Harga Minyak Terus Naik
Sementara itu, Harga minyak terus meningkat pada Selasa menyusul kembali memanasnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang telah meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan terganggunya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent berjangka naik 1,4 persen menjadi 98,5 dolar AS (sekitar Rp1,74 juta) per barel pada pukul 06.30 GMT, mencapai level tertinggi dalam enam pekan.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka juga naik 1,4 persen menjadi 94 dolar AS (Rp1,66 juta) per barel.
Pada Selasa, kelompok Houthi di Yaman menyerang sejumlah kota dan infrastruktur ekonomi Arab Saudi bagian selatan. Aksi militer Houthi ini memakan korban jiwa, ungkap koalisi militer pimpinan Arab Saudi.
Selain itu, kebakaran terjadi di sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi bagian selatan setelah serangan yang menyasar fasilitas tersebut, kata Kementerian Energi Arab Saudi.
Sementara itu, pada Senin, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan pihaknya menargetkan dan menghancurkan balon udara pengintai (aerostat) militer AS yang ditambatkan dalam serangan drone di dekat Bandara Erbil, Irak bagian utara.
Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Senin, mengatakan negaranya akan menetapkan zona maritim baru yang “terbatas” di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.
Dia juga memperingatkan bahwa setiap kapal yang memasuki wilayah tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi.
Pasukan Penjaga Pantai Yaman juga mencegat sebuah kapal tanker minyak pada Minggu setelah kapal tersebut menurunkan muatan “tidak sah” di pelabuhan Ras Isa yang dikuasai Houthi di Provinsi Al-Hudaydah, lapor media pemerintah.
AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang dimediasi Pakistan dan Qatar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!