Perubahan Iklim Juga Melahirkan Hama Baru, Coba Diantisipasi
📅 Kamis, 23 Jul 2026, 12:15 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
DENPASAR – Perubahan iklim juga banyak melahirkan hama. Ini akan diantisipasi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Bali dengan memperkuat infrastruktur dan mitigasi hama.
Kepala Distanpangan Bali I Wayan Sunada di Denpasar, Kamis, mengatakan perubahan pola curah hujan, musim kemarau yang lebih panjang, hingga potensi kekeringan menjadi faktor yang perlu diantisipasi agar produksi pertanian tetap terjaga.
"Perubahan iklim merupakan tantangan yang harus dihadapi bersama, oleh karena itu, Distanpangan Bali terus melakukan berbagai upaya adaptasi dan mitigasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga, sehingga ketahanan pangan masyarakat Bali tetap aman," kata dia.
Dari sisi infrastruktur, strateginya adalah meningkatkan infrastruktur sumber daya air, optimalisasi pemanfaatan irigasi, serta penguatan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) secara ramah lingkungan.
Distanpangan Bali memperoleh dukungan dari Pemerintah Pusat, khususnya langsung dari Kementerian Pertanian dan Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Mataram, yang wilayah kerjanya mencakup Bali, NTB, NTT, Maluku, dan Maluku Utara, dalam bentuk pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur pengairan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada tahun 2026, total sebanyak 199 unit saluran irigasi diperbaiki untuk meningkatkan distribusi air menuju lahan pertanian.
Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan 24 unit irigasi perpompaan, pembangunan irigasi perpipaan, serta 20 unit bangunan konservasi air yang bertujuan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya air, terutama pada wilayah yang memiliki keterbatasan ketersediaan air saat musim kemarau.
Sunada menyebut berdasarkan hasil identifikasi, terdapat 244 subak di Provinsi Bali yang berpotensi terdampak kondisi iklim ekstrem.
Sebaiknya Anda baca juga:
Beberapa wilayah yang menjadi perhatian Pemprov Bali adalah Kabupaten Jembrana dengan potensi lahan terdampak seluas 44 hektare, Kabupaten Karangasem 17 hektare, dan Kabupaten Buleleng 1 hektare.
“Kondisi tersebut menjadi dasar dalam penyusunan langkah-langkah mitigasi yang dilakukan secara terintegrasi bersama pemerintah kabupaten/kota, pekaseh subak, serta para penyuluh pertanian,” ujarnya.
Selain penguatan infrastruktur, Distanpangan Bali juga meningkatkan upaya mitigasi hama dan penyakit tanaman melalui pemanfaatan Agens Pengendali Hayati (APH) yang ramah lingkungan.
Provinsi Bali mendapat bantuan APH dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura serta Perkebunan (BPTPHBUN) tahun ini, meliputi 1.132 kilogram APH padat serta 7.300 liter APH cair, yang terdiri atas 5.500 liter dan tambahan 1.800 liter.
Pemanfaatan APH diharapkan mampu menekan perkembangan organisme pengganggu tumbuhan tanpa memberikan dampak negatif terhadap lingkungan maupun keseimbangan ekosistem pertanian.
Kesiapsiagaan dalam menghadapi perubahan iklim memasuki kemarau ini juga didukung dengan dukungan pompa air sebanyak 20 unit.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!