Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ebola Kongo Makin Mengerikan, Rantai Penularan Misterius dan Sulit Dilacak

📅 Kamis, 16 Jul 2026, 16:47 WIB | Oleh:
Ebola Kongo Makin Mengerikan, Rantai Penularan Misterius dan Sulit Dilacak Doc: AFP/Carl de Souza

JENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (15/7) memperingatkan bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo mencatatkan pertumbuhan wabah tercepat yang pernah tercatat, dengan sebagian besar kasus infeksi baru kini berasal dari rantai penularan yang tidak diketahui.

Saat berbicara kepada wartawan usai kembali dari pusat wabah di Provinsi Ituri, Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO Chikwe Ihekweazu mengatakan bahwa hingga 11 Juli, hampir 2.000 kasus terkonfirmasi dan lebih dari 700 kematian dilaporkan di lima provinsi. Angka tersebut menjadikan wabah saat ini sebagai wabah terbesar ketiga dalam sejarah.

"Kami telah menyaksikan pertumbuhan tercepat dalam satu bulan sejak wabah ini dimulai dan di antara seluruh wabah Ebola yang pernah kami tangani," kata Ihekweazu.

Dia menambahkan bahwa selama beberapa hari terakhir, jumlah infeksi harian telah mencapai rekor tertinggi, dengan lebih dari 80 kasus terkonfirmasi dalam 24 jam.

Menurut pejabat WHO tersebut, salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan adalah banyak dari kematian yang baru dilaporkan itu terjadi di masyarakat, yang berarti para pasien tidak pernah masuk ke fasilitas kesehatan atau menerima perawatan medis.

Meski kemampuan diagnosis meningkat dan tingkat pelacakan kontak tinggi, Ihekweazu memperingatkan bahwa "80 persen kasus baru berada di luar daftar kontak kami, sehingga berasal dari rantai penularan yang tidak diketahui".

Pemodelan epidemiologis WHO menunjukkan bahwa skala wabah yang sebenarnya kemungkinan "setidaknya dua hingga empat kali lipat" lebih besar daripada jumlah kasus yang dilaporkan.

Wabah ini baru dinyatakan secara resmi dua bulan lalu. Kendati hingga 95 persen kasus baru masih berasal dari Ituri, virus tersebut baru-baru ini telah menyebar ke dua provinsi lainnya, yaitu Haut-Uele dan Tshopo.

Untuk mengatasi krisis ini, WHO menguraikan strategi ganda, yakni mengintensifkan upaya respons di pusat wabah sembari memetakan rute perjalanan dan mengidentifikasi daerah-daerah berisiko tinggi untuk potensi kasus baru.

Sembari mendorong masyarakat internasional agar tidak "putus asa," Ihekweazu menekankan bahwa hasil sudah mulai terlihat.

"Sekarang bukanlah waktunya untuk lengah," ujar dia.

Meski beberapa obat sedang menjalani uji coba klinis dan belum ada pengobatan yang disetujui untuk spesies Bundibugyo, perawatan suportif sejak dini dapat secara signifikan menaikkan tingkat kelangsungan hidup.

"Kita harus mengidentifikasi kasus-kasus lebih awal, sehingga bisa memberikan perawatan kepada mereka sesegera mungkin," kata Ihekweazu. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Ledakan di Gudang Amunisi T...
Luar Negeri
Publik Jerman Kecewa, Popul...
Peneliti IPB Gabungkan Varietas Cabai Habanero Lokal hingga Tingkat Kepedasan Ekstrem

Peneliti IPB Gabungkan Varietas Cabai Habanero Lokal hingga Tingkat Kepedasan Ekstrem

16 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.