Bursa Pilgub Jatim, Pakar Politik Unair Ungkap Lia Istifhama Punya Kelebihan Gaet Gen Z
📅 Jumat, 07 Agu 2026, 00:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SSURABAYA – Nama Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mulai diperhitungkan dalam bursa Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2029. Hal ini mengemuka dari hasil survei terbaru yang dianalisis oleh Pengamat Politik Universitas Airlangga, Suko Widodo.
Dalam hasil survei ARCI, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak memang masih memimpin dengan elektabilitas 32,1 persen di kalangan pemilih muda. Namun, angka tersebut juga menunjukkan bahwa mayoritas responden belum menentukan pilihan, sehingga peta persaingan masih sangat terbuka.
“Meski Emil Dardak unggul, angka itu belum dominan. Artinya ruang kompetisi masih lebar,” ujar Suko Widodo dalam analisisnya.
Menariknya, Lia Istifhama muncul sebagai figur non kepala daerah yang mampu menembus posisi kedua dengan elektabilitas 17,5 persen. Capaian ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa figur di luar struktur kekuasaan formal tetap memiliki peluang besar, terutama jika mampu membangun kedekatan dengan generasi muda.
“Ini menunjukkan bahwa preferensi pemilih muda tidak semata ditentukan jabatan, tetapi juga intensitas komunikasi, rekam jejak, dan kedekatan dengan isu yang relevan bagi mereka,” jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Suko menilai, keberhasilan perempuan yang kerap disapa Ning Lia ini dalam meraih simpati Gen Z dan milenial tidak lepas dari pendekatan komunikasi yang adaptif serta konsistensi dalam menyuarakan isu-isu yang dekat dengan anak muda.
Di sisi lain, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berada di angka 10,3 persen. Hal ini memperlihatkan bahwa popularitas di level kota belum tentu otomatis bertransformasi menjadi dukungan di tingkat provinsi. Fenomena serupa juga terjadi pada sejumlah kepala daerah lain yang masih berada di papan tengah dengan selisih elektabilitas tipis.
Meski demikian, Suko mengingatkan bahwa hasil survei ini perlu dibaca secara proporsional. Survei hanya menyasar responden usia 17–40 tahun dan dilakukan jauh sebelum kontestasi Pilgub 2029.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dinamika politik masih sangat cair. Koalisi partai, kinerja tokoh, hingga munculnya figur baru bisa mengubah peta secara signifikan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, beberapa perbedaan elektabilitas di kelompok menengah masih berada dalam rentang margin of error ±2,8 persen, sehingga belum bisa dianggap sebagai perbedaan signifikan secara statistik.
Secara keseluruhan, survei ini menjadi gambaran awal arah preferensi pemilih muda di Jawa Timur. Bagi para kandidat, kunci utama ke depan adalah menjaga komunikasi yang konsisten, menghadirkan program yang relevan, serta membangun kedekatan emosional dengan publik.
Suko memprediksi, suhu politik Jawa Timur akan mulai meningkat mendekati pertengahan 2027.
“Menuju 2029, eskalasi politik akan mulai terasa sejak 2027. Di fase itu, positioning kandidat akan semakin menentukan,” pungkasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!