Benarkah MSG Berbahaya? Kampanye Edukasi Sajikan Temuan Ilmiah
📅 Rabu, 01 Jul 2026, 10:47 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA – PT Sasa Inti menggelar kampanye edukasi bertajuk #MSGYangBenar: "MSG, Satu Sendok, Sejuta Mitos" di Alun-Alun Surabaya, Selasa (30/6/2026). Melalui kegiatan tersebut, perusahaan berupaya meluruskan berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat mengenai monosodium glutamat (MSG) sekaligus mendorong pemahaman tentang penggunaannya sebagai salah satu cara mengurangi konsumsi garam dalam masakan.
Dalam konferensi pers itu, Sasa menyampaikan bahwa berbagai penelitian ilmiah menunjukkan MSG aman dikonsumsi sesuai kebutuhan. Perusahaan juga menilai masih banyak kesalahpahaman yang berkembang mengenai bahan penyedap rasa tersebut.
Head of Marketing PT Sasa Inti Albert Dinata mengatakan kampanye #MSGYangBenar bertujuan menghadirkan informasi berbasis sains mengenai MSG kepada masyarakat. Pihaknya ingin menggeser percakapan public, bahwa MSG bukan musuh, melainkan solusi memasak praktis bagi keluarga Indonesia agar makanan sehat dan bergizi semakin lezat.
“Mitos-mitos yang beredar di masyarakat tentang MSG sering kali keliru dan salah kaprah. Melalui kampanye ini kami ingin mengedukasi masyarakat terkait penggunaan #MSGYangBenar dengan mematahkan berbagai mitos yang ada. Kami juga menyediakan situs msgyangbenar.sasa.co.id agar masyarakat dapat memvalidasi berbagai mitos dan fakta seputar MSG," ujar Albert melalui siaran pers pada hari Rabu (1/7).
Dalam pemaparannya, Sasa mengutip data dari U.S. Food and Drug Administration (FDA) dan World Health Organization (WHO) yang menyebut kandungan natrium dalam MSG sekitar 12 persen, lebih rendah dibandingkan garam dapur yang mengandung sekitar 40 persen natrium. Dengan kandungan natrium yang lebih rendah, penggunaan MSG dalam jumlah yang tepat dinilai dapat membantu menekan penggunaan garam pada masakan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perusahaan juga mengacu pada penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Food Science yang menyatakan penggunaan MSG secara tepat dapat mengurangi kebutuhan garam hingga sekitar 30 persen tanpa mengurangi cita rasa makanan, bahkan meningkatkan penerimaan rasa (palatability).
Secara terpisah, sejumlah lembaga kesehatan internasional juga telah menyatakan MSG aman dikonsumsi. Komite Ahli Bersama FAO/WHO tentang Aditif Pangan (JECFA) mengategorikan MSG sebagai bahan tambahan pangan yang aman bila digunakan sesuai praktik pengolahan pangan yang baik (Good Manufacturing Practice).
Sementara itu, FDA menempatkan MSG dalam kategori Generally Recognized as Safe (GRAS), sedangkan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menyatakan MSG aman dikonsumsi dalam batas asupan harian yang telah ditetapkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam kegiatan tersebut, Sasa juga menggandeng sejumlah pedagang nasi goreng legendaris di Surabaya. Menurut perusahaan, kolaborasi itu menunjukkan bahwa penggunaan MSG memungkinkan pengurangan gula dan garam tanpa menghilangkan cita rasa gurih yang menjadi ciri khas hidangan.
Pengunjung yang hadir dapat mencicipi hasil olahan para pedagang secara gratis melalui sesi taste test, sekaligus membandingkan rasa makanan dengan penggunaan MSG dan pengurangan garam.
Edukasi #MSGYangBenar menghadirkan sejumlah narasumber, yakni dokter Reisa Broto Asmoro, dietisien Mochamad Rizal, S.Gz., M.S., Chef Martin Praja, serta pelaku kuliner Surabaya Bu Rudy. Diskusi dipandu oleh presenter Indra Herlambang.
Selain sesi diskusi, masyarakat juga diajak mengunjungi instalasi interaktif mengenai mitos dan fakta seputar MSG serta menyaksikan demonstrasi memasak yang menampilkan penggunaan MSG dalam menu sehari-hari.
Meski berbagai lembaga internasional telah menyatakan MSG aman dikonsumsi, para ahli gizi mengingatkan bahwa pola makan sehat tetap bergantung pada konsumsi gizi yang seimbang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar konsumsi garam dibatasi kurang dari lima gram atau sekitar satu sendok teh per hari untuk membantu menurunkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
Menurut Albert, dalam konteks tersebut, penggunaan MSG secara proporsional dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi asupan natrium dari garam, namun tetap perlu diimbangi dengan pola makan bergizi dan gaya hidup sehat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!