Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Studi Sun Life: 80 Persen Masyarakat Indonesia Tertekan Biaya Hidup, Literasi Keuangan Jadi Penentu Ketahanan Finansial

📅 Selasa, 09 Jun 2026, 19:20 WIB | Oleh:
Studi Sun Life: 80 Persen Masyarakat Indonesia Tertekan Biaya Hidup, Literasi Keuangan Jadi Penentu Ketahanan Finansial Doc: Sun Life
Ket. Poster digital studi Financial Resilience Index 2026 Sun Life Indonesia. Riset ini mengungkap 80 persen masyarakat merasakan tekanan kenaikan biaya hidup. Literasi keuangan terbukti menjadi faktor utama yang meningkatkan ketahanan finansial dan kepercayaan diri menghadapi ketidakpastian ekonomi.

JAKARTA – Kenaikan biaya hidup masih menjadi tantangan utama yang dihadapi masyarakat Indonesia. Studi terbaru Financial Resilience Index 2026 yang dirilis Sun Life Indonesia menunjukkan sebanyak 80 persen masyarakat merasakan tekanan akibat meningkatnya biaya hidup yang berdampak langsung pada pengeluaran bulanan mereka.

Survei yang dilakukan bersama Genpop pada April 2026 terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh Indonesia itu juga mengungkap bahwa 30 persen responden menilai kenaikan biaya hidup sebagai hambatan terbesar dalam memperbaiki kondisi keuangan mereka. Angka tersebut melampaui faktor lain seperti pendapatan yang tidak stabil maupun keterbatasan pengetahuan keuangan.

Temuan studi menunjukkan kondisi ketahanan finansial masyarakat masih menghadapi tantangan. Hanya 14 persen responden yang merasa sangat aman secara finansial, sementara 45 persen mengaku mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan. Meski demikian, terdapat tren positif dengan meningkatnya proporsi masyarakat yang tergolong sangat tangguh secara finansial dari 30 persen menjadi 34 persen.

Namun, perbaikan tersebut belum merata. Penurunan pada kelompok dengan ketahanan finansial menengah menyebabkan jumlah rumah tangga dengan ketahanan rendah justru meningkat.

Studi juga menemukan bahwa tekanan ekonomi mendorong masyarakat lebih fokus pada kebutuhan jangka pendek. Sebanyak 48 persen responden belum memiliki rencana keuangan jangka panjang atau hanya merencanakan keuangan hingga satu tahun ke depan. Sementara itu, 56 persen responden menjadikan pengelolaan pengeluaran sehari-hari sebagai prioritas utama dalam 12 bulan mendatang, mengungguli tujuan menabung maupun investasi.

Untuk menghadapi lonjakan biaya hidup, masyarakat mengambil berbagai langkah penyesuaian. Sebanyak 23 persen responden mengandalkan tabungan yang dimiliki, 26 persen mengurangi atau menunda pengeluaran kebutuhan penting, dan 5 persen menunda kontribusi dana pensiun.

President Director Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, mengatakan hasil studi tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat berupaya menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dengan tujuan finansial jangka panjang di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah.

“Temuan ini mencerminkan bagaimana banyak masyarakat Indonesia menyeimbangkan kebutuhan finansial jangka pendek dengan tujuan jangka panjang. Di tengah perubahan kondisi ekonomi, kesiapan finansial menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial. Di sinilah peran mitra keuangan yang dapat dipercaya, The one you can rely on, menjadi semakin penting, untuk memberikan rasa tenang dalam menghadapi ketidakpastian saat ini sekaligus membantu merencanakan masa depan,” ujar Albertus.

Studi tersebut menyoroti pentingnya literasi keuangan sebagai faktor yang membedakan tingkat ketahanan finansial masyarakat. Individu yang memiliki literasi keuangan yang baik terbukti tiga kali lebih tangguh secara finansial dan lebih siap menghadapi tekanan ekonomi.

Kelompok ini mencatat tingkat kepercayaan diri finansial 53 poin lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki literasi rendah. Selain itu, optimisme terhadap kondisi keuangan masa depan mereka juga tercatat 47 poin lebih tinggi.

Kemampuan merencanakan keuangan dalam jangka panjang turut memberikan dampak signifikan. Sebanyak 86 persen responden yang memiliki perencanaan keuangan jangka panjang merasa yakin dapat mencapai tujuan finansial mereka. Sebaliknya, hanya 25 persen responden tanpa rencana keuangan yang memiliki keyakinan serupa.

Perbedaan juga terlihat dalam kesiapan menghadapi keadaan darurat. Sebanyak 78 persen responden yang memiliki rencana keuangan jangka panjang mengaku siap menghadapi kondisi darurat finansial, jauh lebih tinggi dibandingkan 13 persen pada kelompok yang tidak memiliki perencanaan.

Selain literasi keuangan, studi ini mencatat meningkatnya peran teknologi dalam membantu masyarakat mengelola keuangan. Sebanyak 68 persen responden mengaku menggunakan generative artificial intelligence (AI) untuk memperoleh informasi dan panduan keuangan. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat adopsi generative AI tertinggi di Asia untuk kebutuhan pengelolaan keuangan.

Tak hanya itu, 67 persen responden memperkirakan penggunaan teknologi AI untuk kebutuhan finansial akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Cuaca Panas Ekstrem Bayangi...
Luar Negeri
Aturan Baru Afghanistan: PN...

Revolusi Flamingo Guncang Albania

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Revolusi Flamingo Guncang A...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Jadwal Lengkap Konser Musik di Jakarta Fair Kemayoran PRJ 2026

Jadwal Lengkap Konser Musik di Jakarta Fair Kemayoran PRJ 2026

09 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 3
# 3
Ratifikasi IEU-CEPA Dorong Daya Saing
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.