Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ketahanan Siber dan Tata Kelola AI Jadi Fondasi Kepercayaan Bisnis di Era Ekonomi Digital

📅 Minggu, 09 Agu 2026, 22:28 WIB | Oleh:
Ketahanan Siber dan Tata Kelola AI Jadi Fondasi Kepercayaan Bisnis di Era Ekonomi Digital Doc: ManageEngine
Ket. Ilustrasi kepercayaan bisnis di era AI. Adopsi kecerdasan buatan mendorong pertumbuhan bisnis di Indonesia, tetapi perusahaan perlu memperkuat ketahanan siber dan tata kelola AI untuk menjaga keamanan, operasional, dan kepercayaan.

Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang semakin pesat turut mendorong perusahaan memperluas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Namun, peningkatan adopsi teknologi tersebut juga menghadirkan tantangan baru terkait keamanan siber, tata kelola, dan keberlangsungan operasional bisnis.

Laporan e-Conomy SEA 2025 yang diterbitkan Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar US$100 miliar pada 2025. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar US$180 miliar pada 2030.

Pertumbuhan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa AI diperkirakan menjadi salah satu penggerak perkembangan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara. Bagi perusahaan di Indonesia, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar mengadopsi AI, tetapi memastikan teknologi tersebut dapat menghasilkan nilai secara berkelanjutan.

Data PwC's 29th Global CEO Survey menunjukkan 75 persen CEO di Indonesia berencana mengejar peluang pertumbuhan di luar lini bisnis utama perusahaan dalam tiga tahun mendatang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 37 persen.

Meski demikian, manfaat AI yang dirasakan perusahaan masih beragam. PwC mencatat sekitar satu dari lima CEO di Indonesia mengaitkan pemanfaatan AI dengan pertumbuhan pendapatan, sementara lebih dari seperempat responden melaporkan adanya penghematan biaya. Namun, hanya sekitar satu dari 10 CEO yang menyatakan telah memperoleh kedua manfaat tersebut sekaligus.

Fondasi AI Masih Perlu Diperkuat

Kesenjangan antara ambisi dan hasil tersebut salah satunya berkaitan dengan kesiapan organisasi dalam mengelola AI.

PwC mencatat 63 persen organisasi di Indonesia telah memiliki budaya yang mendukung penggunaan AI dan 57 persen dinilai mampu mengintegrasikan teknologi tersebut. Namun, hanya 36 persen yang telah memformalkan proses AI yang bertanggung jawab.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kecepatan adopsi AI belum selalu diikuti dengan kesiapan tata kelola dan proses operasional yang memadai.

Ketika AI mulai digunakan bukan lagi sebatas eksperimen, melainkan menjadi bagian dari proses bisnis sehari-hari, risiko yang harus dikelola perusahaan juga semakin kompleks. Risiko tersebut mencakup keamanan data, gangguan sistem, penggunaan AI yang tidak sesuai kebijakan, hingga potensi dampak terhadap proses bisnis dan pengambilan keputusan.

Karena itu, ketahanan siber atau cyber resilience semakin dipandang sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan semata-mata persoalan teknis departemen teknologi informasi.

Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan sekitar 5,2 miliar anomali lalu lintas internet terdeteksi di Indonesia sepanjang 2025. Sebanyak 93,78 persen di antaranya berkaitan dengan malware yang berpotensi berkembang menjadi ransomware.

Besarnya volume ancaman tersebut menunjukkan bahwa organisasi perlu mempersiapkan kemampuan untuk mencegah, mendeteksi, merespons, dan memulihkan diri dari gangguan siber.

Ketahanan tersebut menjadi semakin penting karena gangguan pada sistem TI dapat berdampak langsung terhadap operasional perusahaan, mulai dari terhentinya layanan hingga terganggunya akses karyawan dan pelanggan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
Megapolitan
Menteri ESDM Bahlil Terpant...
Luar Negeri
KBRI Ungkap Puluhan WNI ber...

Mendulang emas di Sungai Mahakam

51 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Mendulang emas di Sungai Ma...

Produksi ikan kering di Maumere turun

51 menit yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Produksi ikan kering di Mau...

Pameran benda seni jaranan di Trenggalek

56 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pameran benda seni jaranan ...
Advertisement
Kepala Bapanas: Pemerintah Tak Beri Ruang Bagi Mafia Beras

Kepala Bapanas: Pemerintah Tak Beri Ruang Bagi Mafia Beras

22 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.