Revolusi Sampah Dimulai, BRIN Siapkan Teknologi Terpadu dari Rumah ke Kota
📅 Senin, 11 Mei 2026, 18:30 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi salah satu elemen kunci dalam menjawab persoalan lingkungan perkotaan yang semakin kompleks.
Dengan meningkatnya volume sampah seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, pendekatan konvensional seperti penimbunan di TPA tidak lagi memadai.
Teknologi modern memungkinkan pengolahan sampah menjadi energi, material daur ulang, maupun produk bernilai tambah, sehingga mengubah beban lingkungan menjadi peluang ekonomi sirkular.
Namun, efektivitas pengembangan teknologi ini sangat bergantung pada dukungan infrastruktur, investasi, serta keterpaduan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.
Selain itu, perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya menjadi faktor penting agar teknologi pengolahan dapat bekerja optimal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jika diintegrasikan dengan baik, inovasi pengolahan sampah tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dan ekonomi hijau secara berkelanjutan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pengolahan sampah dari skala rumah tangga hingga perkotaan guna mendukung percepatan penanganan sampah nasional.
“BRIN menyediakan empat level teknologi sampah, dari rumah tangga, desa, kecamatan hingga perkotaan,” kata Kepala BRIN Arif Satria di Graha Mandiri, Jakarta, Senin (11/5).
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, salah satu teknologi yang dikembangkan untuk rumah tangga adalah komposter kecil bernama Lasamor yang digunakan untuk mengolah limbah organik menjadi kompos.
Arif mengatakan teknologi tersebut memiliki harga relatif murah dan mudah diterapkan masyarakat.
“Yang untuk rumah-rumah itu kurang dari Rp1 juta. Teknologinya murah dan mudah,” ujarnya.
Selain itu, BRIN juga mengembangkan teknologi pirolisis cepat atau fast pyrolysis (Faspol) untuk mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar bagi nelayan.
Ia mengatakan bahan bakar hasil pengolahan limbah plastik tersebut telah diuji coba pada perahu nelayan di Jepara dan telah memenuhi standar Lembaga Minyak dan Gas Bumi.
“Sekarang banyak nelayan sudah menggunakan itu karena harganya murah, sekitar Rp10 ribu per liter dibandingkan solar Rp13 ribu,” ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!