Misteri Kepunahan Massal 252 Juta Tahun Lalu Terpecahkan
📅 Selasa, 21 Jul 2026, 07:22 WIB | Oleh: Haryo BronoMENGAPA cangkang kerang dan siput begitu mudah ditemukan di pantai modern, sementara fosil brachiopoda hewan bercangkang yang pernah mendominasi lautan purba justru sangat jarang? Pertanyaan sederhana itu ternyata membawa para ilmuwan pada jawaban atas salah satu misteri terbesar dalam sejarah kehidupan di Bumi.
Tim peneliti dari Stanford University berhasil mengungkap alasan mengapa kerang dan siput mampu bertahan dari peristiwa kepunahan massal terbesar sepanjang sejarah, sekitar 252 juta tahun lalu. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menunjukkan bahwa kunci utama kelangsungan hidup bukanlah ukuran tubuh atau habitat, melainkan kemampuan fisiologis dan metabolisme organisme dalam menghadapi lautan yang semakin panas dan miskin oksigen.
Penelitian tersebut memberikan gambaran baru mengenai bagaimana perubahan iklim ekstrem dapat mengubah wajah kehidupan di Bumi secara permanen. Lautan modern yang kini didominasi kerang, siput, ikan, dan berbagai hewan laut lainnya ternyata merupakan warisan langsung dari para penyintas bencana biologis terbesar yang pernah terjadi di planet ini.
The Great Dying
Peristiwa yang dikenal sebagai Permian-Triassic Mass Extinction atau The Great Dying terjadi sekitar 252 juta tahun lalu, tepat di batas akhir periode Permian dan awal periode Trias. Peristiwa ini merupakan kepunahan massal paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah geologi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Diperkirakan sekitar 96 persen spesies laut dan 70 persen spesies vertebrata darat musnah. Angka tersebut jauh melampaui kepunahan yang mengakhiri era dinosaurus non-unggas sekitar 66 juta tahun lalu akibat tumbukan asteroid.
Dampaknya sangat luas. Terumbu karang hampir lenyap, rantai makanan laut runtuh, dan berbagai kelompok organisme yang sebelumnya mendominasi ekosistem tiba-tiba menghilang dari catatan fosil. Dibutuhkan waktu sekitar 5 hingga 10 juta tahun bagi kehidupan di Bumi untuk kembali pulih dan membangun ekosistem yang stabil.
Selama puluhan tahun, para ilmuwan telah mengetahui bahwa kepunahan ini berkaitan dengan perubahan iklim ekstrem. Namun, mengapa sebagian kelompok hewan mampu bertahan sementara kelompok lainnya hampir punah masih menjadi teka-teki.
Aktivitas Vulkanik Raksasa
Menurut penelitian, bencana tersebut dipicu oleh letusan vulkanik berskala luar biasa di wilayah yang kini dikenal sebagai Siberian Traps, Rusia. Selama ratusan ribu tahun, aktivitas vulkanik itu melepaskan karbon dioksida ($\text{CO}_2$), metana, dan berbagai gas rumah kaca dalam jumlah sangat besar ke atmosfer. Akumulasi gas-gas tersebut memicu pemanasan global purba yang menyebabkan suhu rata-rata Bumi meningkat sekitar 8 hingga 12 °C.
Perubahan iklim ekstrem itu tidak hanya menaikkan suhu udara, tetapi juga mengubah kondisi lautan secara drastis. Air laut yang semakin hangat kehilangan kemampuan menyimpan oksigen terlarut. Fenomena ini dikenal sebagai deoksigenasi laut, yaitu kondisi ketika kadar oksigen di perairan menurun hingga tidak lagi mampu mendukung kehidupan banyak organisme.
Di sisi lain, suhu yang lebih tinggi membuat metabolisme hewan meningkat. Semakin cepat metabolisme berlangsung, semakin besar pula kebutuhan tubuh terhadap oksigen.
Akibatnya terjadi kondisi yang sangat merugikan: pasokan oksigen terus menurun, sementara kebutuhan oksigen justru meningkat. Kombinasi inilah yang diyakini menjadi pemicu utama kematian massal berbagai organisme laut.
Mengapa Brachiopoda Hampir Punah?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!