Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perkuat Daya Saing dengan Kebijakan Industri yang Terarah

📅 Jumat, 24 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Perkuat Daya Saing dengan Kebijakan Industri yang Terarah Doc: istimewa
Ket. Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB)

JAKARTA - Hasil penelitian Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menunjukkan sektor manufaktur dapat memainkan peran yang sangat penting dalam membantu perekonomian negara-negara berkembang memperkecil kesenjangan produktivitas dengan perekonomian negara-negara yang lebih maju.

Studi tersebut menyoroti pentingnya kebijakan yang mendukung peningkatan industri, pengembangan keterampilan, dan investasi guna membantu perekonomian beralih ke kegiatan bernilai tambah yang lebih tinggi.

Penelitian itu juga sejalan dengan Industrial Development Report 2026 UNIDO, yang menekankan perlunya kebijakan industri yang terarah untuk memperkuat daya saing dan mempertahankan pertumbuhan jangka panjang.

Laporan tersebut mengutip upaya Indonesia dalam memperluas pengolahan sumber daya mineral di dalam negeri sebagai contoh kebijakan yang bertujuan meningkatkan nilai tambah dan pembangunan industri. Kedua studi tersebut menekankan bahwa transformasi industri membutuhkan lebih dari sekadar investasi.

Kelembagaan yang kuat, tenaga kerja terampil, infrastruktur yang memadai, dan akses terhadap pembiayaan merupakan hal-hal yang esensial untuk membantu perusahaan tumbuh dan bersaing.

Kepala Perwakilan ADB untuk Indonesia Bobur Alimov dalam acara Indonesia Development Talks yang digelar di Jakarta, Kamis (23/7) mengatakan pada intinya, pembangunan industri berpusat pada manusia.

“Indonesia sedang mengalami momentum yang nyata dalam transformasi industrinya, dan penelitian ini menunjukkan sejauh mana momentum tersebut dapat mendorong pertumbuhan produktivitas dengan pilihan kebijakan yang tepat,” jelas Bobur.

ADB kata Bobur siap bekerja sama dengan Indonesia dalam pembangunan industri guna menciptakan lapangan kerja yang inklusif dan bernilai tambah tinggi.

“ADB akan terus bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk membantu mewujudkan potensi tersebut menjadi lapangan kerja yang inklusif dan bernilai tambah tinggi bagi masyarakat Indonesia,” kata Bobur.

Penyerapan Tinggi

Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Atma Jaya, YB. Suhartoko, yang diminta pendapatnya menilai arah kerja sama itu sudah tepat. Namun ia mengingatkan agar fokusnya diarahkan pada industri manufaktur yang menyerap tenaga kerja tinggi.

Suhartoko pun merujuk pada teori perubahan struktural dari Hollis Chenery dan Syrquin. Teori tersebut meneliti pola transisi sumbangan setiap sektor ekonomi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dikaitkan dengan pendapatan per kapita.

“Pada pendapatan per kapita rendah, sektor pertanian mempunyai kontribusi tertinggi dan penyerapan tenaga kerja juga tertinggi, disusul industri manufaktur dan jasa. Pada pendapatan per kapita menengah, sektor industri manufaktur nomor 1, diikuti pertanian dan terakhir jasa. Selanjutnya manufaktur masih nomor 1, diikuti jasa dan terakhir pertanian. Pada pendapatan per kapita tinggi, jasa nomor 1, diikuti manufaktur dan pertanian terakhir,” jelas Suhartoko.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kontribusi sektor utama terhadap PDB Indonesia pada awal tahun 2026 adalah industri pengolahan atau manufaktur sebesar 19,07 persen, diikuti pertanian 12,67 persen. Sementara berbagai subsektor jasa seperti transportasi, akomodasi, dan jasa lainnya jika diakumulasikan justru menopang sisa struktur PDB nasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Daerah
Kemeriahan Gebyar PAUD Yogy...
Megapolitan
Pelatihan Mengemudi Becak L...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.