The Great Dying, saat Lautan Kehabisan Oksigen
📅 Selasa, 21 Jul 2026, 07:33 WIB | Oleh: Haryo BronoSEKITAR 252 juta tahun lalu, Bumi pernah menyentuh titik terdekatnya dengan kematian total. Di batas akhir Periode Permian dan fajar Periode Trias, sebuah petaka biologis berskala kolosal menyapu planet ini. Peristiwa itu menghapus hampir seluruh jejak kehidupan, hingga para ahli geologi dan paleontologi memberinya julukan yang terdengar dingin sekaligus mengerikan: The Great Dying atau Kematian Besar.
Jika bencana kepunahan dinosaurus akibat hantaman asteroid 66 juta tahun lalu sering kali mendominasi imajinasi populer, The Great Dying sebenarnya berdiri di panggung yang jauh lebih kelam. Kepunahan Permian-Trias ini tidak dipicu oleh batu angkasa yang jatuh dari langit, melainkan oleh kehancuran sistemik dari dalam tubuh Bumi sendiri.
Bencana berantai itu berawal di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Siberia, Rusia. Di sana, mantel Bumi meletup dalam serangkaian letusan vulkanik berskala raksasa yang dikenal sebagai Siberian Traps. Selama ratusan ribu tahun tanpa henti, muntahan lava menutupi daratan yang sangat luas, sembari menyemburkan miliaran ton karbon dioksida, metana, dan gas rumah kaca ke atmosfer.
Langit tersumbat dan Bumi perlahan berubah menjadi oven raksasa. Suhu rata-rata global melonjak drastis antara 8 hingga 12 derajat Celsius. Pemanasan global purba ini dengan cepat menjalar ke lautan, memicu krisis berlapis yang mematikan bagi kehidupan bawah air.
Air laut yang kian hangat kehilangan kemampuannya untuk menyimpan oksigen terlarut—sebuah fenomena yang dikenal sebagai deoksigenasi laut. Di saat yang sama, suhu air yang panas memaksa laju metabolisme hewan-hewan laut berpacu lebih cepat. Mereka membutuhkan lebih banyak oksigen justru di saat pasokan oksigen di dalam air berada pada titik terendah. Di samping itu, tingkat karbon dioksida yang meresap ke dalam air menciptakan kondisi pengasaman laut yang melarutkan cangkang-cangkang organisme purba.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pemanasan global yang diikuti penurunan kadar oksigen laut merupakan kombinasi faktor paling menentukan yang mengontrol tingkat kelangsungan hidup berbagai kelompok organisme pada masa itu,” terang Profesor Erik Sperling, ahli paleobiologi dari Stanford Doerr School of Sustainability dikutip dari Scitech Daily.
Akibatnya, lautan mati lemas. Ekosistem laut runtuh secara tragis. Terumbu karang purba hancur, dan sekitar 96 persen spesies laut musnah tanpa sisa. Kelompok hewan legendaris seperti Trilobita, yang telah mendominasi dasar laut selama ratusan juta tahun, akhirnya punah sepenuhnya dari catatan fosil.
Dampak di daratan tak kalah mengenaskan. Sekitar 70 persen spesies vertebrata darat—termasuk amfibi raksasa dan kelompok synapsid yang merupakan nenek moyang mamalia—gugur secara massal. Bahkan, peristiwa ini tercatat sebagai satu-satunya momen dalam sejarah planet ini di mana kelompok serangga mengalami kepunahan berskala besar.
Bumi saat itu menjelma menjadi planet yang sepi dan merana. Dibutuhkan waktu hingga 10 juta tahun bagi kehidupan untuk perlahan pulih dan membangun kembali ekosistem yang stabil. Namun, dari puing-puing kehancuran itu, babak baru evolusi dimulai.
Ruang-ruang ekologis yang ditinggalkan oleh para korban kepunahan dimanfaatkan oleh kelompok penyintas yang tangguh. Organisme dengan sistem pernapasan dan metabolisme yang lebih efisien—seperti cikal bakal moluska (kerang dan siput), ikan bertulang modern, serta reptil-reptil purba—mampu bertahan melewati masa-masa tergelap tersebut. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!