Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Suara Anak Indonesia Amanat Konstitusi

📅 Jumat, 24 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh:
Suara Anak Indonesia Amanat Konstitusi Doc: ANTARA/SULTHONY HASANUDDIN
Ket. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi

Suara anak-anak Indonesia adalah amanat konstitusi. Apa yang disampaikan oleh anak-anak secara langsung akan mengubah dan menghasilkan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak Indonesia. 

Indonesia tengah menatap Indonesia Emas 2045 dengan optimisme. Berbagai pembangunan terus dipacu untuk memperkuat daya saing nasional, mulai dari transformasi ekonomi, hingga penguatan sumber daya manusia (SDM). Namun, dari semua hal itu ada satu investasi yang nilainya melampaui seluruh pembangunan fisik, yaitu investasi pada anak.

Jalan tol dapat dibangun dalam hitungan tahun. Gedung-gedung dapat berdiri dalam hitungan bulan. Teknologi dapat dibeli atau dipelajari dan dikembangkan. Akan tetapi, membangun manusia membutuhkan waktu satu generasi.

Anak yang hari ini memperoleh gizi yang baik bias dipastikan akan tumbuh menjadi generasi yang sehat. Anak yang memperoleh pendidikan bermutu akan menjadi sumber inovasi. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan penuh kasih sayang akan tumbuh dengan karakter, empati, dan kepercayaan diri.

Sebaliknya, setiap anak yang kehilangan haknya, sesungguhnya adalah potensi bangsa yang ikut hilang. Karena itu, menyayangi anak bukan hanya persoalan afeksi. Ia adalah pilihan strategis dalam pembangunan nasional jangka panjang.

Harus diingat bahwa dua puluh tahun dari sekarang, anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah dasar akan mengisi ruang-ruang penting kehidupan bangsa. Mereka akan menjadi guru, dokter, petani, ilmuwan, aparat penegak hukum, auditor, pengusaha, hingga pemimpin republik. Mereka bukan sekadar generasi penerus, mereka adalah wajah Indonesia pada tahun 2045.

Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah Indonesia mampu menjadi negara maju. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah apakah kita benar-benar sedang menyiapkan generasi yang akan membawa Indonesia menjadi negara maju, adil, dan makmur?

Pertanyaan tersebut menemukan relevansinya pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tahun 2026 pada Kamis, 23 Juli, yang mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan". Tema ini mengandung tiga pesan yang saling terkait: kasih sayang, perlindungan, dan investasi bagi masa depan bangsa. Ketiganya bukan sekadar slogan, melainkan agenda pembangunan yang harus diwujudkan secara nyata.

Bangsa yang besar tidak hanya dikenang karena kemajuan ekonominya atau megahnya infrastruktur yang dibangun. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memastikan setiap anak tumbuh sehat, aman, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya.

Tema Hari Anak Nasional tahun ini yang diperingati juga mengingatkan bahwa kasih sayang tanpa perlindungan tidak akan berarti apa-apa.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, anak menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kekerasan, perundungan, eksploitasi, perkawinan anak, hingga ancaman di ruang digital masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius. Karena itu, tema HAN 2026 juga mendorong penguatan Gerakan Nasional #RamahAmanNyamanAnak (Gernas #RANA) sebagai upaya kolaboratif menghadirkan ruang hidup yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

Perlindungan anak tidak boleh dipahami hanya sebagai respons ketika terjadi kekerasan. Perlindungan harus dimulai jauh sebelumnya, melalui keluarga yang hangat, sekolah yang aman, ruang publik yang inklusif, literasi digital yang baik, serta kebijakan yang selalu menempatkan kepentingan terbaik anak sebagai pertimbangan utama.

Dalam perspektif ini, kualitas perlindungan anak sesungguhnya mencerminkan kualitas sebuah negara. Selama ini, keberhasilan pembangunan sering diukur dari pertumbuhan ekonomi, besarnya investasi, atau tingginya serapan anggaran. Semua indikator tersebut penting. Namun, bagi sebuah bangsa yang ingin membangun masa depan secara berkelanjutan, ukuran itu belum cukup.

Kita perlu untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah anak-anak Indonesia hari ini hidup lebih aman dibandingkan tahun lalu? Apakah mereka dapat belajar tanpa rasa takut? Apakah mereka memperoleh layanan kesehatan yang lebih baik? Apakah anak perempuan, anak laki-laki, dan anak penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang?

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Daerah
Produksi Pertanian Sidrap M...
Advertisement
Jadwal Liga Champions: PSG Ditantang Barcelona, Bayern Muenchen Jamu Arsenal

Jadwal Liga Champions: PSG Ditantang Barcelona, Bayern Muenchen Jamu Arsenal

20 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.