Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

ESDM Dorong Green Hydrogen, Tantangan Terbesar Ada di Ekosistem

📅 Jumat, 24 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
ESDM Dorong Green Hydrogen, Tantangan Terbesar Ada di Ekosistem Doc: antara
Ket. Energi Hijau - Biaya Produksi Hidrogen Hijau Dapat Ditekan Lewat Pemanfaatan Listrik Berlebih

Tanpa dukungan ekosistem yang terintegrasi, keunggulan sumber energi terbarukan berisiko belum mampu diterjemahkan menjadi industri hidrogen yang kompetitif dan berkelanjutan.

JAKARTA – Keberhasilan industri hidrogen tidak cukup ditentukan oleh ketersediaan listrik berlebih dari energi terbarukan, melainkan oleh kesiapan ekosistem secara menyeluruh. Mulai dari pembangkit listrik yang andal, tingkat utilisasi electrolyzer yang ekonomis, infrastruktur penyimpanan dan distribusi, hingga kepastian permintaan dari sektor industri menjadi faktor yang saling menentukan.

Gagasan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memanfaatkan kelebihan pasokan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk memproduksi green hydrogen menawarkan peluang menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan yang belum terserap jaringan. Namun, dalam praktiknya, pasokan listrik berlebih bersifat fluktuatif sehingga belum cukup untuk menjamin operasi electrolyzer yang membutuhkan tingkat utilisasi tinggi agar investasi tetap ekonomis.

Karena itu, pengembangan kawasan hidrogen memerlukan pembangkit EBT (energi baru dan terbarukan) yang didedikasikan, kepastian permintaan, serta infrastruktur pendukung agar proyek green hydrogen tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga kompetitif secara komersial.

Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma menilai pemanfaatan listrik berlebih untuk memproduksi hidrogen hijau merupakan gagasan yang menarik, tetapi masih menghadapi tantangan besar dari sisi teknis, ekonomi, dan kesiapan industri. "Meski idenya menarik, yaitu memanfaatkan energi yang terbuang agar tidak mubazir, tetapi ada beberapa ganjalan utama yang membuat skenario ini tidak sesederhana yang dibayangkan," kata Surya Darma di Jakarta, Kamis (23/7).

Menurutnya, biaya investasi electrolyzer yang tinggi membuat produksi menjadi tidak ekonomis jika hanya mengandalkan pasokan listrik berlebih yang bersifat tidak menentu. Selain itu, keterbatasan infrastruktur jaringan listrik serta belum siapnya sistem penyimpanan dan distribusi hidrogen berpotensi menjadi hambatan utama.

Karena itu, dirinya mendorong pembangunan ekosistem hidrogen yang lebih komprehensif melalui pembangkit EBT khusus, kepastian pasar domestik, dan fasilitas produksi yang dekat dengan konsumen agar industri hidrogen dapat berkembang secara kompetitif.

Seperti diketahui, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menyatakan biaya produksi hidrogen hijau dapat ditekan dengan memanfaatkan listrik berlebih (excess electricity) dari PLTA dan PLTS yang tidak terserap sistem kelistrikan. Menurutnya, potensi tersebut akan semakin besar seiring target pengembangan kapasitas PLTS nasional hingga 100 GW, sehingga kelebihan listrik saat beban rendah dapat dimanfaatkan untuk memproduksi hidrogen tanpa harus bergantung pada sistem penyimpanan energi baterai.

Listrik Murah

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai daya saing green hydrogen sangat bergantung pada harga listrik yang murah. Menurutnya, agar harga green hydrogen dapat menyamai grey hydrogen, tarif listrik perlu berada di kisaran 0,03–0,04 dollar AS per kWh.

“Untuk mencapainya, pemerintah harus mempercepat pembangunan pembangkit energi terbarukan dalam skala besar, terutama PLTS, yang dinilai paling berpotensi menghasilkan listrik berbiaya rendah dan membuat produksi hidrogen hijau lebih kompetitif,” jelasnya.

Sementara itu, Peneliti Sustainability Learning Center (SLC) Hafidz Arfandi menilai pemanfaatan kelebihan pasokan listrik untuk produksi hidrogen memiliki potensi, terutama di Jawa dan Sumatera. Namun, dia mengingatkan dominasi pembangkit batu bara membuat hidrogen yang dihasilkan masih berjenis grey hydrogen, sementara PLTA perlu diprioritaskan untuk menjaga keandalan sistem dan PLTS terkendala pasokan listrik yang tidak stabil.

Menurutnya, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) justru lebih prospektif karena mampu memasok listrik secara konsisten, sehingga berpotensi mendukung produksi green hydrogen yang lebih ekonomis dan berkelanjutan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Merugi, Pemkab Kudus Serahkan Pengelolaan Taman Krida Wisata ke Swasta
    Preview komentar:
    Pemberian masa tenggang atau grace period selama tiga ...
  • Berpotensi Melemah Terbatas, 13 Agustus 2026
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai pergerakan Rupiah hari ...
  • Microchip Perbarui Ethernet Sensor Bridge untuk Perkuat Konektivitas Edge AI
    Preview komentar:
    Penyusutan dimensi perangkat hingga 60 persen yang dipadukan ...
Advertisement
injourney
Advertisement
asd
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Nasional
Daerah Diminta Siapkan Angg...
Luar Negeri
Salah Satu PM yang Pernah A...
Luar Negeri
Putin Kunjungi Kepulauan Ku...
Olahraga
Festival Sepak Bola Rakyat ...
Megapolitan
Selesaikan Persoalan LRT Ci...
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Wah… Menyedihkan dan juga Memalukan, Pebulu Tangkis Indonesia Diselidiki BWF Diduga Jual Angka   

Wah… Menyedihkan dan juga Memalukan, Pebulu Tangkis Indonesia Diselidiki BWF Diduga Jual Angka  

13 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.