Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kurangi Tekanan Rupiah, BI Diperkirakan Agresif Menaikkan Suku Bunga Acuan

📅 Kamis, 23 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kurangi Tekanan Rupiah, BI Diperkirakan Agresif Menaikkan Suku Bunga Acuan Doc: istimewa
Ket. Stabilitas Moneter - SMF Memproyeksikan BI Rate di Level 6,75% di Akhir Tahun 2026

JAKARTA - PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) memproyeksikan suku bunga acuan BI-Rate pada akhir 2026 berada di level 6,75 persen, dan dengan skenario moderat bisa menyentuh 6,25 persen.

Kepala Ekonom PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Martin Daniel Siyaranamual mengatakan upaya untuk mengurangi tekanan nilai tukar rupiah adalah Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter harus mengambil posisi yang agresif dengan menaikkan BI-Rate.

Dengan demikian, investor dari luar negeri dapat melihat bahwa berinvestasi di Indonesia lebih menguntungkan seiring kenaikan permintaan penukaran dollar AS terhadap rupiah.

Selain itu, belanja pemerintah yang cukup tinggi dan cadangan devisa (cadev) yang tidak terlalu memadai seiring tren penurunan di awal tahun menjadi pertimbangan bank sentral untuk lebih agresif.

Di satu sisi, otoritas moneter harus bersikap agresif, namun di sisi lain imbal hasil dari Surat Utang Negara (SUN) cenderung mengalami kenaikan, diiringi dengan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Martin menganggap hal yang paling memungkinkan dilakukan oleh otoritas moneter ialah meningkatkan utang, yang berarti harus menawarkan imbal hasil lebih menarik atau agresif lagi.

Kenaikan imbal hasil SUN disebut akan berdampak terhadap seluruh lembaga pembiayaan industri jasa keuangan, mengingat referensi dari setiap penerbitan obligasi yaitu SUN, termasuk SMF.

“SMF pada saat menerbitkan obligasi, referensinya adalah Surat Utang Negara. Nggak mungkin kami di bawah mereka, pasti kami akan naik. Kalau mereka ikut naik, yang lain pasti akan lebih naik lagi. Itu implikasinya. Itulah yang menyebabkan tantangan tersendiri,” kata Martin.

Dalam paparannya, disampaikan bahwa pasar keuangan domestik masih berada dalam fase penyesuaian saat konflik di Timur Tengah dan evaluasi aksesibilitas pasar oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Sepanjang Maret hingga 17 Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi dari kisaran 8 ribu menjadi 6.176, sejalan dengan meningkatnya tekanan jual investor asing dan sentimen risk-off di pasar global.

Di saat yang sama, nilai tukar Rupiah (JISDOR) terdepresiasi hingga sempat menyentuh level 18.200 per dollar AS sebelum menguat kembali ke 17.944 rupiah per dollar AS pada 17 Juli 2026.

Pergerakan tersebut mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap arus modal asing, termasuk respons investor terhadap hasil review MSCI yang menyoroti aspek aksesibilitas dan efisiensi pasar modal Indonesia.

Daya Tarik Aset

Pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi menilai kenaikan BI-Rate memang bisa membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik sehingga dapat menahan arus keluar modal dan mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Penguatan rupiah jelasnya berpotensi menekan inflasi impor, terutama untuk energi, pangan, bahan baku industri, dan barang modal. “Stabilitas harga menjadi penting untuk menjaga daya beli masyarakat serta memberikan kepastian bagi dunia usaha,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Timothy Ivan Triyono Mundur dari Bakom RI

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Timothy Ivan Triyono Mundur...
Luar Negeri
AS Kirim Dua Jet Tempur F-1...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.