Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

ITS Teliti Adaptasi Tanaman Suboptimal

5 Rabu, 27 Agu 2025, 01:00 WIB | Oleh:
ITS Teliti Adaptasi Tanaman Suboptimal ITS Teliti Adaptasi Tanaman Suboptimal Doc: Foto: Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Ket. Prof Dr Tutik Nurhidayati MSi saat melakukan pengamatan pertumbuhan tanaman porang sebagai bagian dari penelitian ketahanan tanaman terhadap kondisi lingkungan ekstrem.

Surabaya - Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Tutik Nurhidayati meneliti fisiologi tumbuhan untuk mendukung ketahanan pangan melalui adaptasi tanaman terhadap cekaman abiotik di lahan suboptimal.

"Karena sifatnya sesil atau tidak bisa bergerak, tumbuhan harus beradaptasi dengan kondisi ekstrem seperti kekeringan, salinitas, maupun genangan," kata Tutik di Surabaya, Selasa (26/8).

Seperti dikutipari Antara, Profesor dari Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS itu menemukan gen penting yang membantu tanaman bertahan. Pada porang, gen pembentuk gula dan dinding sel berperan menghadapi kekeringan dan salinitas.

Sementara pada tembakau, gen yang mengatur metabolisme dan hormon stres membantu tanaman tetap hidup saat tergenang air.

"Setiap spesies punya cara berbeda untuk beradaptasi, bahkan satu gen saja bisa menjadi temuan baru," katanya.

Selain faktor genetik, Tutik juga memanfaatkan mikoriza, rhizobakteria, serta kultur jaringan. Teknologi ini membuat tanaman tetap produktif di lahan marginal. Kultur jaringan porang, misalnya, mampu menghasilkan bibit unggul bebas penyakit sepanjang tahun.

Penelitian itu diharapkan memperkuat ketahanan pangan nasional dengan mengoptimalkan lahan suboptimal.

"Melalui fisiologi tumbuhan, kita dapat menciptakan bibit unggul dan memperbaiki lahan dengan bantuan mikroorganisme, sehingga produksi tanaman tetap optimal," ujar perempuan kelahiran Magetan, 10 September 1972 tersebut.

Riset ini juga melibatkan kolaborasi lintas disiplin bersama peneliti kimia dan teknik kimia untuk mengembangkan porang menjadi tepung dan beras glukomanan dengan kandungan oksalat berkurang sehingga dapat dimanfaatkan industri pangan maupun kesehatan.

Tutik menegaskan, risetnya mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin kedua tentang ketahanan pangan.

"Dengan fisiologi tumbuhan, kita bisa menjaga ketersediaan pangan sekaligus menyelamatkan bumi dari ancaman krisis lingkungan," katanya.

Cetak Sawah

Di kesempatan lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa program percepatan cetak sawah dan optimalisasi lahan menjadi penentu keberlanjutan swasembada pangan selama tiga tahun ke depan.

"Kalau cetak sawah selesai, secara bertahap selama tiga tahun berturut-turut, ini akan membuat swasembada ke depan sustain, berkelanjutan," kata Amran di Jakarta.

Untuk tahun 2025, kata Amran, pemerintah menargetkan sawah-sawah baru dengan luas total 225.000 hektare telah berproduksi.

Kepada Presiden Prabowo Subianto, Mentan Amran melaporkan bahwa program cetak sawah berjalan dengan baik, mulai dari Papua Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Sumatera Selatan.

Selain cetak sawah, Amran juga mengatakan operasi pasar beras besar-besaran akan terus dilakukan hingga Desember 2025 dengan target penyaluran beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) sebanyak 1,3 juta ton, untuk menstabilkan harga beras yang saat ini mulai berangsur turun.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
WHO Sebut Enam Langkah Ikli...

BPBD: Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas

40 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Daerah
BPBD: Gunung Semeru Luncurk...
Luar Negeri
WHO Setujui Uji Klinis Dua ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Dishub: Pemerintah Siapkan Tiga Pelabuhan Alternatif untuk Antisipasi Kepadatan Nataru 2026-2027

Dishub: Pemerintah Siapkan Tiga Pelabuhan Alternatif untuk Antisipasi Kepadatan Nataru 2026-2027

05 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.