Fenomena Rojali Kian Marak, Daya Beli Masyarakat Melemah di Tengah Tekanan Ekonomi
📅 Kamis, 21 Agu 2025, 15:15 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Koran Jakarta / Paundra Zakirulloh
JAKARTA - Fenomena Rojali atau rombongan jarang beli kembali marak di pusat-pusat perbelanjaan dan menjadi sinyal melemahnya daya beli masyarakat. Fenomena ini mencerminkan tantangan serius yang dihadapi sektor ritel dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), terlebih di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.
Sekretaris Komisi B DPRD DKI Jakarta, Muhammad Lefy, menegaskan bahwa Rojali merupakan istilah yang merujuk pada kelompok masyarakat yang datang ke mal secara beramai-ramai, namun tidak banyak melakukan transaksi belanja. Menurutnya, tren ini semakin terlihat dalam beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya tekanan ekonomi rumah tangga.
“Istilah ini merujuk pada kelompok masyarakat yang datang ke mal beramai-ramai, tetapi banyak yang tidak melalukan transaksi belanja,” ujar Lefy beberapa waktu lalu.
Penjelasan Lefy tersebut merespons pernyataan Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja. Ia menilai bahwa fenomena Rojali memang bukan hal baru, namun kerap muncul ketika daya beli masyarakat berada dalam kondisi melemah. Hal ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara pola belanja masyarakat dengan situasi ekonomi rumah tangga.
Walaupun aktivitas belanja berkurang, pusat perbelanjaan tetap ramai dikunjungi karena telah mengalami transformasi fungsi. Mal tidak lagi sekadar menjadi tempat berbelanja, tetapi juga berperan sebagai ruang publik multifungsi yang menawarkan fasilitas rekreasi, kuliner, dan hiburan. Perubahan ini membuat masyarakat tetap datang ke pusat belanja meskipun transaksi menurun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, menilai daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih memang memengaruhi perilaku konsumen. Namun, tingkat okupansi pusat perbelanjaan nasional hingga pertengahan tahun 2025 masih cukup stabil, berkisar di angka 80 hingga 85 persen.
“Secara umum, fenomena ini belum mengganggu kinerja pusat perbelanjaan dan segi pendapatan. Terutama karena daya beli di luar Pulau Jawa relatif lebih stabil,” tutur Alphonzus.
Meski demikian, Alphonzus tetap optimistis kondisi tersebut bersifat sementara. Ia memperkirakan transaksi di mal akan berangsur membaik seiring dengan pemulihan konsumsi masyarakat. Keyakinan ini juga didasari oleh tren konsumsi yang biasanya kembali meningkat menjelang akhir tahun dan momentum liburan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Fenomena Rojali dinilai menjadi cermin bahwa masyarakat masih membutuhkan ruang interaksi sosial meskipun kemampuan belanja terbatas. Pusat perbelanjaan yang kini berfungsi sebagai tempat rekreasi, nongkrong, hingga hiburan keluarga, tetap memiliki daya tarik kuat bagi pengunjung. Hal ini menunjukkan pergeseran orientasi masyarakat yang menjadikan mal sebagai bagian dari gaya hidup perkotaan.
Para pelaku ritel dan UMKM pun harus menghadapi tantangan ganda, yakni menjaga keberlangsungan usaha di tengah menurunnya transaksi, sekaligus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. Meski transaksi menurun, mereka tetap memiliki peluang dengan memanfaatkan konsep hiburan, kuliner, hingga event berbasis komunitas yang dapat menarik pengunjung untuk tetap melakukan pembelian.
Secara keseluruhan, fenomena Rojali memperlihatkan bahwa pelemahan daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dari dampak tekanan ekonomi global. Namun, stabilnya tingkat okupansi pusat perbelanjaan menjadi harapan bagi sektor ritel untuk tetap bertahan. Optimisme tetap terjaga bahwa kondisi akan kembali normal seiring pemulihan konsumsi masyarakat dalam waktu dekat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!