SEAMEO RECFON Rilis Hasil Temuan Awal Studi Action Against Stunting Hub
📅 Kamis, 13 Feb 2025, 19:37 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rupKemudian perlu alat bantu untuk pengambil kebijakan dalam upaya penurunan stunting yang lebih efektif mencakup komponen fisik/biologi, perilaku, pangan dan pendidikan.
Studi AASH yang didanai oleh United Kingdom Research and Innovation-Global Challenges Research Fund (UKRI-GCRF) bertujuan untuk mempercepat upaya penurunan stunting melalui pendekatan anak secara utuh (Whole Child Approach). Studi itu dilakukan pada tahun 2019 hingga 2024 di tiga negara (India, Indonesia, Senegal), dengan Lombok Timur terpilih sebagai lokasi studi di Indonesia. AASH Indonesia dikoordinasikan oleh SEAMEO Regional Center for Food and Nutrition (RECFON) – Pusat Kajian Gizi Regional Universitas Indonesia (PKGR UI).
Studi AASH mengadopsi pendekatan holistik yang fokus pada pendekatan anak secara menyeluruh. Penelitian itu merancang intervensi yang bertujuan untuk mencegah, mengatasi, dan mengembalikan beberapa karakteristik utama dari stunting. Pendekatan yang menyeluruh tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari aspek fisik (nutrisi, kesehatan saluran cerna, epigenetik, mikrobiom), lingkungan tempat tinggal (pola makan, perilaku, patogen, parasit), hingga pendidikan (kognisi, perkembangan anak usia dini, pengasuhan), serta sistem pangan yang lebih luas (rantai nilai pangan, keamanan pangan, dan lingkungan pangan). Semua domain tersebut terhubung oleh nilai-nilai sosial yang secara langsung mempengaruhi pengalaman hidup anak.
Tanggapan Pemangku Kepentingan
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain diseminasi temuan awal studi AASH, juga dilakukan diskusi kebijakan percepatan penurunan stunting yang dipandu Rektor Universitas YARSI Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D dan sejumlah penanggap diantaranya Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan dr. Lovely Daisy MKM, Widyaprada Ahli Utama Direktorat PAUD Ditjen PAUD Dikdasmen Ir. Djajeng Baskoro, M.Pd dan Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Badan Pangan Nasional, Yusra Egayanti, S.Si., Apt., M.P.
Dr Lovely Daisy menyampaikan bahwa target nasional penurunan angka stunting hingga 14% pada tahun ini menghadapi tantangan besar. Berdasarkan data tahun 2022-2023, angka stunting hampir mencapai 20% di beberapa wilayah, dengan tingkat prevalensi lebih tinggi di beberapa daerah tertentu.
“Intervensi kesehatan telah dilakukan secara lintas sektor untuk mencapai target ini, namun terdapat kendala dalam pemenuhan gizi dan kesehatan ibu serta anak. Intervensi yang telah lakukan mencakup suplementasi dan fortifikasi makanan, termasuk program Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) yang kini telah menjadi bagian dari kebijakan nasional,” jelas Dr. Lovely Daisy.
Sebaiknya Anda baca juga:
Program MMS menggantikan pemberian tablet tambah darah dengan suplemen yang mengandung 15 jenis vitamin dan mineral untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil dan mencegah stunting sejak dalam kandungan.
Sebagai langkah strategis, pemerintah terus memperkuat intervensi berbasis bukti melalui survei gizi nasional serta memprioritaskan daerah dengan tingkat prevalensi stunting tertinggi.
“Kami akan terus menguatkan program kesehatan ibu dan anak, memastikan akses terhadap suplemen gizi yang memadai, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang dan imunisasi,” tutup Dr. Lovely Daisy.
Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Badan Pangan Nasional, Yusra Egayanti, menegaskan pentingnya aspek ketersediaan, keterjangkauan, dan keamanan pangan dalam meningkatkan pola konsumsi masyarakat. Hal tersebut menjadi kunci dalam menjamin kecukupan gizi, terutama dalam upaya pencegahan stunting. Dalam dua tahun terakhir, data menunjukkan bahwa ketersediaan sumber protein hewani masih belum mencukupi kebutuhan nasional.
Sesuai dengan rekomendasi WHO, salah satu faktor penyebab stunting adalah kualitas pangan yang kurang memadai, selain faktor lain seperti pola asuh dan pemberian MPASI. Oleh karena itu, intervensi terhadap pola konsumsi menjadi sangat penting guna meningkatkan kualitas pangan bagi masyarakat.
"MPASI merupakan intervensi penting dalam seribu hari pertama kehidupan. Selain menjaga stabilitas ketersediaan pangan, edukasi dan promosi konsumsi makanan yang seimbang juga diperlukan," ujar Yusra Egayanti.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!