Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Negara-negara Kaya Harus Bayar Lebih untuk Hadapi Perubahan Iklim

📅 Kamis, 24 Okt 2024, 00:00 WIB | Oleh:
Negara-negara Kaya Harus Bayar Lebih untuk Hadapi Perubahan Iklim Doc: ISTIMEWA
Ket. Dampak perubahan iklim semakin terasa di negara-negara rentan seperti Bangladesh.

WASHINGTON - Kelompok negara-negara G24, hari Selasa (22/10), mengatakan negara-negara kaya harus menyediakan lebih banyak dana untuk mendukung negara-negara berkembang dan ekonomi pasar berkembang di dunia mengatasi tantangan iklim dan pembangunan atau menghadapi risiko menggagalkan kemajuan terkini.

"Masyarakat global gagal mencapai tujuan iklim dan pembangunan, dan dalam menyediakan dukungan keuangan yang sepadan kepada negara-negara berkembang untuk mencapainya," kelompok G24 mengumumkan dalam sebuah pernyataan.

Dikutip dari The Daily Star, G24, yang mencakup berbagai negara pasar berkembang dan ekonomi berkembang termasuk Argentina, Ghana, Nigeria, dan Filipina, bertemu di Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional atauInternational Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia di Washington minggu ini.

Mengenai perubahan iklim, G24 menyatakan ada kebutuhan untuk meningkatkan pendanaan secara signifikan.

"Jumlah yang dibutuhkan oleh karena itu lebih besar dari 100 miliar dollar AS per tahun yang direncanakan selama COP29 mendatang, untuk menggantikan komitmen saat ini, yang berakhir tahun depan," tambahnya.

Angka ini dibayarkan oleh negara-negara kaya dan terindustrialisasi yang secara historis paling banyak berkontribusi terhadap pemanasan global, termasuk Amerika Serikat, negara-negara anggota Uni Eropa, dan Jepang.

Berikan Konpensasi

G24 menambahkan para anggotanya mengharapkan kemajuan yang lebih cepat dalam operasionalisasi dan kapitalisasi Dana Kerugian dan Kerusakan, mengacu pada dana yang dirancang untuk memberikan kompensasi kepada negara-negara berkembang atas kerusakan iklim yang sebagian besar disebabkan oleh negara-negara kaya.

Rancangan target pendanaan iklim, yang akan diadopsi pada bulan November di COP29 di Baku, Azerbaijan, telah menjadi lebih jelas dalam beberapa minggu terakhir setelah diterbitkannya rancangan perjanjian.

Namun, angka akhir, yang dikenal sebagai tujuan kolektif terukur baru atau new collective quantified goal (NCQG) belum diumumkan, dan masih belum jelas menjelang pertemuan puncak bulan depan.

"Tanpa perbaikan dan tindakan berani, upaya individu dan global selama puluhan tahun untuk memberantas kemiskinan dan kesenjangan, memerangi perubahan iklim, dan berinvestasi dalam berbagai proyek akan terhenti, jika tidak dibatalkan," kata Sekretaris Keuangan Filipina dan Ketua G24, Ralph Recto, kepada wartawan di IMF di Washington.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Uji Coba Pendaratan Pesawat...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.