Blackout Sumatera Bongkar Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
📅 Selasa, 26 Mei 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiEvaluasi menyeluruh, investigasi yang transparan, dan modernisasi jaringan listrik dinilai penting untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan nasional.
JAKARTA – Pemadaman listrik massal di Sumatera yang memicu pertanyaan dari berbagai pihak mencerminkan besarnya perhatian terhadap keandalan sistem kelistrikan nasional. Dalam sistem jaringan modern, gangguan cuaca seperti sambaran petir seharusnya dapat diisolasi melalui sistem proteksi berlapis sehingga tidak berkembang menjadi blackout regional.
Meluasnya pemadaman di sejumlah provinsi memunculkan indikasi adanya persoalan yang lebih kompleks, mulai dari kualitas infrastruktur transmisi, ketahanan jaringan, hingga efektivitas pengelolaan sistem operasi kelistrikan. Peristiwa ini juga menunjukkan ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh kecukupan pasokan listrik, tetapi juga kemampuan sistem dalam mengantisipasi dan meminimalkan dampak gangguan.
Blackout berskala besar dapat menghambat aktivitas ekonomi, layanan publik, dan sektor industri yang bergantung pada stabilitas pasokan listrik. Karena itu, evaluasi menyeluruh, transparansi hasil investigasi, serta percepatan modernisasi jaringan menjadi langkah penting untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan risiko gangguan cuaca ekstrem.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai pemadaman listrik massal di Sumatera menunjukkan adanya persoalan mendasar pada ketahanan dan keandalan sistem kelistrikan, bukan sekadar akibat cuaca ekstrem atau sambaran petir. IESR juga menyoroti lemahnya redundansi jaringan transmisi, keterbatasan cadangan daya, hingga potensi kelemahan sistem proteksi dan pengendalian grid yang membuat gangguan berkembang menjadi blackout lintas provinsi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Ini harus diinvestigasi dan dijelaskan secara transparan kepada publik,” ujar Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa di Jakarta, Senin (25/5).
Karenanya, dirinya mendesak pemerintah, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) melakukan investigasi teknis mendalam dan transparan dengan melibatkan pakar independen untuk mengungkap akar masalah sistemik.
“Pemadaman yang meluas menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi rumah tangga, pelaku usaha, layanan publik, industri, dan masyarakat luas dan PLN sendiri yang kehilangan pendapatan dari energi yang tidak tersalurkan (energy not served),” jelasnya.
Akselerasi PLTS
Selain itu, Fabby menilai penguatan jaringan transmisi, percepatan proyek jalur 500 kV Sumatra, modernisasi smart grid, hingga pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap dan penyimpanan energi menjadi langkah penting untuk meningkatkan ketahanan listrik nasional sekaligus mendukung agenda transisi energi Indonesia.
“Kombinasi PLTS atap dan penyimpanan energi dapat membantu meningkatkan ketahanan pasokan listrik pelanggan, mengurangi kerugian akibat pemadaman, menghindari penggunaan genset berbahan bakar BBM yang mahal, sekaligus mendukung percepatan transisi energi bersih di Indonesia,” paparnya.
Direktur Transmisi PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra menjelaskan blackout di Sumatera dipicu fenomena power swing atau osilasi tegangan tinggi yang menyebabkan sistem interkoneksi kelistrikan mengalami gangguan besar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!